Purnama dan Awal Bulan Qomariyah
Rabu, 14 September 2011 18:13:07 - oleh : lemlit - views 2587
Purnama dan Awal Bulan Qomariyah

Dr Agus Purwanto,  (Penulis buku Ayat-Ayat Semesta, Ahli
fisika teoritis, lulusan Universitas Hiroshima, Jepang, S1 Fisika ITB, sekarang
Dosen Fisika ITS, Ketua Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam),
Tulisan ini pernah dimuat di rubrik
 Opini: Republika,
Jum'at 21 Agustus 2009 dengan sedikit penambahan dari hasil pengamatan
Lemlitbang UHAMKA
.




Perbedaan awal bulan qomariyah dapat diketahui jauh sebelumnya karena adanya
perbedaan kriteria awal bulan di antara sesama pengguna hisab. Kriteria
tersebut adalah imkanur rukyat (batas bawah kemungkinan hilal dapat dilihat)
dan wujudul hilal (hilal eksis meski tidak dapat dilihat). Bulan purnama dapat
dijadikan hakim pemutus awal bulan mana yang benar yang selanjutnya juga
memberi arahan kriteria mana yang mestinya ditetapkan.

Prinsip penentuan awal bulan qomariyah adalah sebagai berikut. Pertama
menentukan waktu ijimak (conjunction) pada hari ke 29. Ijtimak adalah keadaan
ketika posisi Bumi, Bulan dan Matahari berada pada satu garis bujur astronomis.
Pada posisi ini bagian Bulan yang terkena sinar matahari sepenuhnya
membelakangi bumi.

Bila ijtimak terjadi setelah maghrib (merupakan saat pergantian tanggal dalam
Islam) maka usia bulan qomariyah adalah 30 hari, awal bulan masih lusa hari.
Bila keadaan ini yang terjadi, sebut sebagai keadaan 1, maka tidak akan terjadi
perbedaan awal bulan. Bila ijtimak terjadi sebelum maghrib maka langkah kedua
dilakukan yakni menentukan posisi relatif antara Bumi, Bulan dan Matahari pada
saat maghrib. Bila hilal negatip (keadaan 2) maka tanggal dan bulan baru juga
lusa harinya. Tetapi bila hilal positip maka akan timbul dua kemungkinan.
Pertama, tinggi hilal lebih besar dari 2 derajat (keadaan 3) maka keesokan hari
adalah tanggal satu bulan baru. Keadaan ini juga tidak menimbulkan perbedaan.
Bila kurang dari dua derajat (keadaan 4) akan terjadi perbedaan. Penganut
kriteria wujudul hilal menyatakan keesokan hari adalah bulan baru, tetapi
penganut imkanu rukyat menyatakan bulan baru adalah lusanya. Dus, perbedaan
hanya terjadi pada keadaan 4.

Sebagai contoh, pada 20 Agustus 2009 terjadi keadaan 2 maka puasa awal Ramadhan
adalah 22 Agustus. Pada 19 September terjadi keadaan 3, hilal sekitar 6
derajat, maka 1 Syawwal jatuh pada 20 September. Terakhir, 16 Nopember terjadi
keadaan 1 maka awal Dzulhijjah jatuh pada 18 Nopember. Tahun depan, 2010, akan
terjadi perbedaan pada dari raya idzul kurban, sedangkan awal Ramadhan dan
Syawwal sama. Pada 29 Dzulqo'dah yakni 6 Nopember terjadi keadaan 4, tinggi
hilal satu derajat sekian menit. Pengguna wujudul hilal akan berhari raya idzul
adha 16 Nopember, sedangkan pengguna imkanu rukyat 17 Nopember. 

Perbedaan tidak terjadi jika ada satu kriteria saja, wujudul hilal atau imkanur
rukyat saja. Imkanur rukyat merupakan upaya akomodasi hisab dan rukyat yakni
mengambil ketinggian tertentu sebagai batasan minimum hilal dianggap dapat
dilihat dengan mata. Artinya, di bawah ketinggian ini hilal mustahil dapat
dilihat dan pengakuan berhasil melihat hilal akan ditolak. Indonesia dengan
beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei dan Singapura mengambil
kriteria 2 derajat. Wujudul hilal dapat dipandang sebagai keadaan khusus dari
imkanu rukyat yakni dengan ketinggian lebih besar dari nol. Menurut pemahaman
kelompok ini hilal telah wujud atau eksis meski tidak dapat dilihat.

Keduanya mempunyai masalah. Wujudul hilal terkesan mengabaikan pesan hadits
yang memerintahkan mengawali puasa setelah melihat hilal. Sedangkan imkanur
rukyat mempunyai kriteria yang tidak seragam. Indonesia menetapkan 2 derajat
sedangkan Mesir 4, Jordania 6, Turki 7 dan komunitas muslim Amerika utara 15.
Mengapa diambil angka-angka yang berlainan? Mengapa tidak diambil angka
ketinggian yang lain? Apakah perbedaan angka tersebut menjamin kesamaan awal
bulan di semua negara tersebut?

Al-Qur'an hanya menyebut dua fasa Bulan, sabit (crescent) dan purnama
(fullmoon). Fasa sabit dimunculkan dalam dua istilah, ahillah (hilal; QS 2:189)
dan urjunu al-qadim (tandan tua; QS 36:39). Meski keduanya memberi penampakan
Bulan yang sama tetapi berbeda posisi dan waktu. Ahillah adalah awal waktu
tepatnya awal bulan sedangkan urjun akhir bulan.
Dua fasa sabit tersebut mempunyai titik temu yang menandai akhir dari urjun
yang sekaligus awal dari ahillah. Titik temu tersebut adalah konjungsi atau
ijtimak. Secara teoritis, sesaat setelah konjungsi Bulan memasuki fasa baru
(new moon) yaitu Bulan sabit. Dari perspektif ini, new moon identik dengan new
month. Ada sebagian umat Islam yang menetapkan keesokan harinya sebagai bulan
baru bila konjungsi terjadi sebelum maghrib (keadaan 5). Kriteria awal bulan
ini dikenal sebagai ijtimak qoblal ghurub (konjungsi sebelum maghrib). 

Kemajuan astronomi sebenarnya memungkinkan umat Islam melakukan keputusan
revolusioner dengan menjadikan keadaan 5 sebagai kriteria baru awal bulan.
Argumennya sederhana, visibilitas merupakan kriteria yang wajib ketika
menggunakan rukyat, karena hasil rukyat hanya satu dari dua hal yaitu terlihat
atau tidak terlihat. Sedangkan dengan hisab, hilal dapat diketahui eksis atau
tidak sehingga kriteria eksistensi telah cukup.

Wujudul hilal dapat dipandang sebagai jalan tengah dari keadaan 5 dan keadaan
3, yakni mengambil nol hilal bukan pada saat konjungsi tetapi saat maghrib.
Sdangkan semangat imkanur rukyat cukup baik tetapi ada masalah mendasar pada
penetapan angka minimum. Kriteria 2 derajat dari imkanur rukyat di Indonesia
merupakan kesepakatan belaka, bukan alasan astronomis. Menurut para ahli
astronomi, dengan kondisi alam yang dimiliki, hilal di Indonesia secara umum
bisa dilihat jika ketinggian minimum 9 derajat. Dari sisi ini pengambilan nol
menjadi lebih berdasar. Secara alamiah segala sesuatu dimulai dari nol.
Al-Qur'an menyebut fase Bulan purnama (QS 84: 18) dengan redaksional sumpah,
"Demi Bulan ketika purnama". Menurut para ahli tafsir ayat seperti ini mempunyai
makna istimewa. Sayangnya, sampai saat ini ayat dan fenomena Bulan purnama
belum mendapat perhatian serius termasuk dalam menyelesaikan perselisihan awal
bulan. Padahal Rasul saw telah mengistimewakannya dengan cara menganjurkan
berpuasa sunnah selama tiga hari pada saat purnama seperti yang disebutkan
hadits tentang ayyamul bidh atau hari-hari putih. Hadits ini misalnya tertulis dalam kitab sunan Nasai nomor 2377, 2379,
2380, 2384, 2385, 2386, 2387, 2388, 2389 dan musnad Imam Ahmad hadits nomor
19431, 19432 dan 19433.
 
Rasul saw telah memberi kriteria definit tentang hari putih yaitu hari ke 13,
14 dan 15. Berdasar kriteria ini hari-hari putih dapat diartikan sebagai hari
yang terang terus tanpa jeda gelap di antara siang dan malamnya. Keadaan ini
terjadi ketika matahari yang menerangi Bumi tenggelam di ufuk barat, Bulan
telah berada di atas ufuk timur dalam kondisi bundar dan menerangi Bumi.

Pada hari ke 16 dan 17 Bulan juga masih tampak bundar dan menerangi Bumi ketika
malam tetapi pada tanggal 16 ke atas Bulan masih di bawah ufuk timur ketika
Matahari tenggelam. Akibatnya ada jeda gelap beberapa saat ketika siang diganti
malam sehingga tidak didefinsikan sebagai hari-hari putih.


 


Bila
ada dua tanggal 1 berarti juga ada dua tanggal 15. Menurut pemahaman dari
hadits, tanggal 15 yang benar adalah hari yang saat maghribnya Bulan di atas
ufuk bukan di bawah ufuk. Dus, dapat diuji. Kami dari Laboratorium Fisika Teori
dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS telah melakukan pengamatan di pantai timur
Surabaya pada tahun 2007-2008.


 


Sedikit
penambahan dari hasil pengamatan LEMLITBANG UHAMKA


Berdasarkan
pengamatan kemunculan bulan pada  tanggal
13 September 2011 hari Selasa malam, Lemlitbang UHAMKA memperoleh data  bahwa bulan muncul di ufuk timur jam 18:12:06
di Tangerang Selatan, sedang waktu magrib setempat 17:53:05. Berarti ada
selisih waktu antara terbenam matahari (magrib=17:53:05) dengan munculnya bulan
di ufuk timur (18:12:06) sebesar 0:19:01 (sembilan belas menit). Berdasar
kriteria Yaumul Bidh (hari putih) untuk puasa sunah pertengahan bulan syawal
maka Selasa malam (13 September) dan Rabu siang (14 September) sudah masuk
tanggal 16 Syawal 1432 H. Sehingga FullMoon yang terjadi tanggal 12 September
2011 malam, jam 22:03 terjadi pada periode hari ke 15, yang berarti Senin malam
dan Selasa siang (tanggal 13 September 2011) adalah tanggal 15 Syawal 1432.
Dengan demikian hari akhir puasa tengah bulan pada bulan syawal tahun ini
sesuai kriteria berdasar hadits Rosul (yaumul Bidh) adalah hari Selasa tanggal 13 September 2011, dan Hari Rabu Siang (14 September 2011) sudah tidak disunahkan lagi untuk puasa tengah bulan, karena hari Rabu siang tanggal 14 September 2011 telah masuk pada tanggal 16 Syawal 1432 H. Dari
pengamatan tersebut juga dapat dikonfirmasikan bahwa dapat dipastikan ijtima' telah terjadi pada tanggal 29 Agustus 2011 sore (sebelum magrib) sehingga dapat di Ru'yah Bil Ilmi (diketahui) pada tanggal 29 Agustus Malam (malam selasa) Hilal Telah Wujud, karena pergantian hari untuk bulan qomariah (hijriah) adalah saat magrib maka tanggal 29 Agustus malam (setelah magrib) sudah masuk 1 Syawal 1432 H. Hari Raya Idul Fitri dirayakan pada periode 1 Syawal siang yang bertepatan dengan hari Selasa (Tanggal 30 Agustus 2011). Jadi dapat disimpulkan bahwa Hisab yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1432 H jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 dapat dipertanggung jawabkan ketepatannya. WallahuA'lam Bishowab. 


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Warta Islam dan Kemuhammadiyahan" Lainnya

PENCARIAN

Lemlit Loading
APTISI DKI Gelar Work shop Penyusunan Hibah Penelitian
2014-04-16 08:02:24 - 9 views
Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta ...
NIK (NID) DOSEN UHAMKA
2014-04-11 00:11:05 - 22 views
Dosen-Tenaga Pendidik N I D Nam...
Daftar Kode Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
2014-04-11 00:07:47 - 7 views
Kode PTNNOMOR KODE PERGURUAN TIN...
Kirim Proposal Hibah ke Lemlit Secara On Line
2014-03-27 22:47:43 - 136 views
Sejak tahun 2012 Lemlitbang Uhamk...
Konfirmasi Perkuliahan Seminar 8E Teknik Elektro
2014-03-26 09:25:35 - 83 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Konfirmasi Tugas Mata Kuliah Perancangan WEB 6E Teknik Elektro
2014-03-25 11:10:26 - 115 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Konfirmasi Tugas Mata Kuliah Arsitektur Komputer
2014-03-24 23:36:34 - 219 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Kerjasama Penelitian Dengan Deakin University Australia
2014-03-23 00:25:14 - 33 views
Lemlitbang UHAMKA bergabung dalam...
Konfirmasi Tugas Kuliah Sistem Linier 4TE
2014-03-18 13:38:39 - 177 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Pemasukan Proposal Penelitian Desentralisasi 2014
2014-03-14 11:39:41 - 281 views
(Pandauan penulisan proposal pene...

Pesan Singkat

Statistik Situs

Visitors : 498349 Org
Hits : 1670119 Hits
Month : 4194 Users
Today : 339 Users
Online : 5 Users

Top Download

LEMLITBANG DAN LPPM

Free counters!