ANALISIS USAHA SEKTOR INFORMAL DI PERKOTAAN
Rabu, 20 Juli 2011 04:36:00 - oleh : lemlit - views 10520
ANALISIS USAHA SEKTOR INFORMAL DI PERKOTAAN

 


ANALISIS
USAHA SEKTOR INFORMAL DI PERKOTAAN


(Kajian
Perspektif Antropologi Ekonomi Terhadap Profesi Tukang Ojek Sepeda Ontel)


 


Eko
Digdoyo-Supani Adi Priyono


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


 


 


ABSTRACT


As
the capital city of a country, Jakarta is the center of economic activity,
education, politics and government activity. In
this study, economic problems become a major problem.
Therefore, the
purpose of this study is to achieve at the level of academics, practice and
social. Methodologically, this research uses the
theoretical migration and urbanization approach.
The
purpose of this study is expected to achieve at the level of academic,
practical and social. This research used the
theory of migration and urbanization. Through this qualitative research, the
results showed that the ojek ontel bike is a kind of traditional
transportation, but it is different with the other types of transportation
those are often pursued under the guise of DKI Jakarta provincial because
violating the regulations no. 08 year 2007 about
public order. The people would rather pay Rp. 2.500 until Rp. 3.000 to the the
ojek ontel bike than hire out the bike because
hiring a bike is more expensive, it is around Rp. 15.000 until 20.000 and it has
more risk, spending fuels dowry, the risk
of dealing with law
enforcement (police), if it does not have the incomplete letters.. The conclusion that is related to the quality of
human resources that the Urban Communities tend to wrestle control of the physical
needs of the informal type of work, though it is full of compulsion, a small
income, but their existence is actually help smooth economic community, and
contribute to overcome air pollution, especially environmental health.


Intisari


 Sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan
pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, politik dan birokrasi pemerintahan. Dalam
kajian ini, ekonomi akan menjadi masalah utama. Oleh karena itu tujuan kajian
ini diharapkan dapat mencapai pada tataran akademis (teori), praktis, dan
sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori migrasi dan urbanisasi.
Melalui
pendekatan kualitatif (Qualitative
Research
) h
asil
penelitian menunjukkan bahwa ojek sepeda ontel merupakan jenis angkutan
tradisional, namun berbeda dengan jenis angkutan lain yang sering dikejar-kejar
petugas Pemprov. DKI Jakarta dengan dalih melanggar Perda No.08 Tahun 2007
tentang Ketertiban Umum. Berdasarkan tempat mangkal, para pengojek sepeda ontel
dapat dijumpai di sekitar terminal Tanjung Priuk, Penjaringan, Pademangan,
Sunter, Ampera, Kodim, Swasembada, Koja, Cilincing, dan di sekitar Jakarta
Kota. Para pengojek umumnya menggunakan sistem sewa kepada pemilik atau juragan per/hari Rp.2.500,- sampai
Rp.3.000,-, karena setelah dipertimbangkan sewa motor banyak resikonya antara
lain; pengeluaran bahan bakar mahal, resiko berhadapan dengan penegak hukum
(kepolisian) apabila tidak memiliki surat-surat secara lengkap, alas an lain sewa
motor sangat mahal (Rp. 15.000,- sampai Rp. 20.000,-), bisa-bisa pengeluaran
lebih banyak, sehingga biaya hidup keluarga tidak tercukupi. Kesimpulannya
adalah terkait dengan kualitas Sumber Daya Manusia, maka masyarakat urban
cenderung mengandalkan kemampuan fisik dalam menggeluti jenis pekerjaan yang
bersifat informal, walaupun penuh dengan keterpaksaan, penghasilan kecil, namun
keberadaanya sebetulnya membantu kelancaran ekonomi masyarakat, serta turut
mengatasi kesehatan lingkungan terutama polusi udara.


 


PENDAHULUAN


Jakarta
merupakan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, serta politik dan pemerintahan.
Daerah perkotaan sudah lama dikenal sebagai pusat kemajuan, peradaban, dan
pembangunan.
Oleh karena itu penelitian ini akan memfokuskan wilayah
Jakarta sebagai central of economi yang
dilatarbelakangi oleh proses migrasi dan urbanisasi. Pesatnya pertumbuhan
penduduk di Jakarta umumnya disebabkan oleh migrasi, dan hal itu akan
melahirkan suatu masyarakat kota yang sangat kompleks menurut ukuran suku, budaya,
pekerjaan serta kelompok-kelompok sosial. Oleh karena itu arus migrasi penduduk
ke kota menyebabkan terjadinya dinamika perkembangan masyarakat.


Selanjutnya
gejala pertumbuhan dan perkembangan kota yang amat cepat, menyebabkan timbulnya
berbagai masalah benturan sistem nilai budaya. Terjadinya perubahan dan
perkembangan kota tadi, antara lain disebabkan oleh bertambahnya penduduk yang
pada akhirnya memberikan implikasi terhadap berbagai aktivitas kota. Salah satu
fenomena dari perkembangan kota besar seperti Jakarta adalah tingkat
perkembangan penduduk yang cukup cepat, terjadinya ketimpangan ekonomi,
munculnya kelompok organisasi massa dengan berbagai kepentingan.


Oleh karena
itu sebagaimana diuraikan oleh Poerwanto bahwa implikasi perubahan akan
mencakup berbagai dimensi kehidupan. Selanjutnya dikatakan bahwa akhir-akhir
ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta merupakan pusat pertumbuhan
dan secara otomatis akan mengalami perubahan yang pesat. Pertumbuhan penduduk
yang pesat terutama akibat arus migrasi maupun urbanisasi dan penyebarannya
yang kurang merata, di samping menimbulkan masalah individu, juga berpengaruh
langsung terhadap masalah sosial-ekonomi, serta berbagai macam bentuk konflik
lainya di masyarakat (Poerwanto, 2000:239).


Umumnya
tujuan para migran yang berbondong-bondong ke kota tidak lain adalah untuk
memperbaiki dan mencari nafkah, karena kondisi di daerah mereka secara  sosial ekonomi terkadang sangat sulit untuk
mencapai harapan hidup yang lebih layak. Oleh sebab itu salah satu upaya adalah
merantau ke kota walaupun hanya memiliki modal tenaga saja. Sebetulnya apabila
dilihat lebih mendalam banyak dijumpai para pendatang yang sukses. Banyak
sekali warga pendatang yang lebih baik kondisi sosial ekonominya, sehingga
mampu mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, seperti; presiden, menteri,
gubernur, dirjen, direktur, serta pejabat lain baik pemerintah maupun swasta.
Akan tetapi di balik itu semua, ternyata juga banyak sekali warga masyarakat
yang datang ke kota kemudian hidup dalam kondisi sosial-ekonomi yang
memprihatinkan, seperti; sopir angkot, pemulung, buruh bangunan, PRT, PSK, jasa
tukang ojek serta pekerja kasar lainnya yang nota bene hanya mengandalkan
kemampuan fisik belaka.


Seiring dengan
perkembangan teknologi transportasi, kota semestinya lebih mudah dalam
mendapatkan sarana dan prasarana, akan tetapi di Jakarta sendiri masih banyak
warga yang memanfaatkan sarana transportasi yang dianggap terbelakang. Atas
dasar itulah, maka perlu kiranya mengadakan risert khususnya mengenai pola
hidup tukang ojek khususnya ojek sepeda ontel di wilayah Kodya Jakarta Utara. Oleh
karena itu masalah yang perlu dijawab adalah bagaimana pola hidup serta
eksistensi usaha pada sektor informal khususnya tukang ojek sepeda ontel di
wilayah Jakarta Utara, dan apa alasan mendasar ia mempertahankan hidupnya
dengan sarana ojek sepeda ontel, padahal jika ditinjau dari letak geografis
Jakarta termasuk pusat perkembangan teknologi yang lebih mudah didapatkan
terutama sarana transportasi.


Kajian ini
diharapkan dapat mencapai pada tataran akademis, praktis, dan sosial. Secara
praktis data yang ada diharapkan dapat menerangkan kepada publik, sehingga
hasil penelitian dapat dijadikan acuan bagi para pengambil kebijakan (decision making) dalam melakukan
pengawasan, penertiban, pembinaan serta bentuk-bentuk kebijakan lainnya. Kemudian
secara sosial-ekonomi kajian ini adalah untuk mengetahui keuntungan dan
kerugian bagi para tukang ojek terhadap pemanfaatan sarana yang ia pakai yaitu
sepeda ontel, di samping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap masyarakat terutama isu-isu pencemaran lingkungan (global warning).


 


Pendekatan
Teori


Berangkat dari
konsep migrasi, maka pendekatan teori yang dianggap relevan adalah teori
migrasi dan urbanisasi. Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat
ke tempat yang lain, sementara itu urbanisasi perpindahan penduduk dari desa ke
kota dengan maksud dan tujuan-tujuan tertentu, maka salah satunya adalah faktor
ekonomi. Sebagaimana diuraikan oleh Stilkind (1983) bahwa arus urbanisasi yang
sangat pesat juga merupakan suatu kelemahan masyarakat yang tidak mampu
menciptakan prasarana dalam negeri yang memadahi untuk mendorong produksi, baik
sektor pertanian maupun industri. Bagi negara yang sedang berkembang, kebijakan
pembangunan yang mengabaikan sektor pertanian telah menimbulkan kemandekan atau
tidak memadahinya pertumbuhan pendapatan di daerah pedesaan.


Gejala ini
menyebabkan mereka berusaha menyelamatkan diri dengan cara pindah ke kota-kota
yang tumbuh dengan pesat (urbanisasi), dengan tujuan tercapainya kehidupan yang
lebih baik, ternyata tidak dapat terwujud. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh
meningkatnya migrasi dari desa ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan di
sektor industri semakin meningkat, sedangkan jumlah pekerja dan lapangan kerja yang
dibutuhkan semakin sedikit (tidak seimbang).


Masih berpijak
dari pendapat Stilkind bahwa masyarakat desa ketika melakukan migrasi ke kota
pada umumnya memiliki secercah harapan terutama nasib ekonomi yang lebih baik.
Salah satu dorongan penyebab terjadinya perpindahan penduduk ke kota karena
terjadi kemandekan atau berkurangnya kesempatan kerja di desa, dan pada saat
yang sama tertarik oleh harapan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik dan
penghasilan lebih tinggi (Stilkind, 1983).


Pembahasan
mengenai daya tarik kota, biasanya akan menitikberatkan pada cahaya lampu yang
gemerlapan, sehingga fenomena gemerlap tersebut berhasil memikat para petani
(masyarakat desa) untuk berbondong-bondong datang ke kota. Oleh karena itu,
selama pendapatan di desa tetap rendah dan upah di sektor ekonomi perkotaan
lebih tinggi dari semestinya karena kebijakan pemerintah dan pengaruh
institusional lainnya, maka kaum migran dari desa akan terus mengalir ke kota
untuk mencari pekerjaan di sektor modern yang upahnya lebih baik walaupun sukar
dilakukan. Oleh karena itu, hal ini akan terjadi urban bias (kecenderungan mengutamakan kehidupan kota).


Namun demikian
masalah mendasar yang dihadapi oleh daerah perkotaan terutama negara sedang
berkembang adalah pertumbuhan penduduk yang sangat cepat tetapi tidak diimbangi
dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang
cukup baik. Todaro dan Stilkind (1991) mengatakan bahwa terdapat beberapa
gejala yang dihadapi oleh negara berkembang, gejala tersebut adalah jumlah
pengangguran dan setengah pengangguran yang besar dan semakin meningkat,
proposisi tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri di kota hampir tidak
dapat bertambah tetapi semakin berkurang, dan selanjutnya adalah jumlah
penduduk dan tingkat pertumbuhannya sudah begitu pesat, sehingga pemerintah
tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan, perumahan, pendidikan, dan
transportasi yang memadahi. Terbukti bahwa pencemaran udara, kebisingan,
kemacetan lalu lintas, kejahatan, dan kesehatan cenderung lebih memprihatinkan
(Todaro dan Stilkind, 1991).


Riset mengenai
proses urbanisasi di Eropa berkembang sangat dipengaruhi oleh teori-teori
urbanisasi Eropa dan Amerika yang berpendapat bahwa kota kecil (town) atau kota besar (city) adalah pusat kemajuan dan pembangunan,
pusat perubahan sosial (Hans-dieter Evers & Rudiger Korff, 2002:12). Kritik
terhadap teori urbanisasi di atas dikemukakan pula oleh Casstells yang
mengatakan bahwa kota tidak otomatis sebagai pusat modernisasi dan belum tentu
pula menghimpun semua struktur modernitas (dalam Hans-dieter Evers &
Rudiger Korff, 2002:12).


Sektor informal
sebagai identitas problematika perkotaan dari kacamata dualism perekonomian
oleh Jan Breman ditafsirkan berbeda. Keberadaan sektor informal tidak lagi
mempertentangkan kapitalis versus non-kapitalis, industri perkotaan dengan
agraris-pedesaan, pertumbuhan dinamis-modern dan sektor tradisional-statis,
melainkan memahami sektor informal yang menekankan pada sistem produksi (mode of production), di mana perdebatan
formal-informal menunjuk pada suatu sektor ekonomi, masing-masing dengan
konsisten dan dinamika strukturnya sendiri. Konsep tersebut dikemukakan oleh
Breman dalam sistem tenaga kerja dualistis; suatu kritik terhadap konsep sektor
informal (Manning-Efendi (1996:134-144).


Sementara itu di
negara miskin, kontribusi yang diberikan oleh pelaku sektor informal mencapai
30%-60% dari seluruh penduduk perkotaan. John Friedmann, Empowerment: The Politics of Alternative Development, Massachusett:
Blackwell Publishers, 1992:43 (dikutip dari Ahmad Erani Yustika, Industrialisasi Pinggiran, Tiara Wacana
Yogyajakarta: 2000:176). Tajudin Noer Efendi, Perkembangan Penduduk, Sektor Informal, dan Kemiskinan di Kota,
1996:255-269).


Konsep
informalitas perkotaan merupakan logika yang menjelaskan proses transformasi perkotaan
dipopulerkan oleh Ananya Roy dan Nezar Alsayyad (2004) Urban informality: Transnasional Perspektiv from the Middle East, Latin
America and South Asia
. Definisi tersebut tidak menekankan dikotomi sektor
formal-informal tetapi pada pengertian bahwa informalitas sebagai sektor yang
tidak terpisah dalam struktur ekonomi masyarakat, bahwa struktur ruang
merupakan suatu produk sejarah yang harus dilihat sebagai kreasi agen-agen
sosial atau aktor-aktor yang bersifat kolektif, interaksi, strategi, keberhasilan
dan kegagalan agen-agen membentuk kualitas dan karakteristik ruang kota.


 


Metodologis


  Didasari pada
fokus penelitian mengenai kondisi sosial-ekonomi, maka metodologi penelitian
merupakan pendekatan fenomenologi.
Pendekatan fenomenologis yaitu
pendekatan yang menekankan pada aspek perilaku secara subjektif dari seseorang,
berusaha masuk ke dalam dunia konseptual terhadap subjek yang ditelitinya
sedemikian rupa sehingga kita mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian
tentang peristiwa yang dikembangkan oleh subjek sehari-hari. Berangkat dari pendapat
Kriyantono (2006:58), maka metode penelitian yang penulis gunakan adalah
kualitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti objek yang
alamiah, dan hasil penelitian melalui pendekatan kualitatif lebih menekankan
makna daripada generalisasi.
Metode tersebut
diharapan dapat membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat
tentang fakta-fakta dan sifat objek tertentu
(Kriyantono,
2006:69)
.


                  Guna
memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti
mengumpulkan data atau informasi melalui wawancara dengan informan kunci (key informan) yaitu pelaku utama tukang
ojek yang telah lama. Dari informan kunci inilah kemudian dilanjutkan mencari
dan mengumpulkan data dari sumber peristiwa lain atau fenomena yang dipandang
cocok dan bermanfaat untuk mengungkap permasalahan atau fokus penelitian. Di
samping melalui pendekatan tersebut, data didapat melalui pengumpulan dokumen
yang dianggap penting dan dapat memperjelas hakekat dan substansi dari
permasalahan penelitian yang dapat dijadikan informasi atau data berikutnya,
sehingga data yang didapatkan lebih akurat. Guna mendukung data tersebut, maka
sample atau informan dalam penelitian ini sebanyak lima belas (15) orang
pengojek.


 


 


 


PEMBAHASAN


a.      Konsep Sektor Informal


Istilah
sektor informal pertama kali dilontarkan oleh Keith Hart (1991) dengan
menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada di
luar pasar tenaga yang terorganisasi. Apa yang digambarkan oleh Hart memang
dirasakan belum cukup dalam memahami pengertian sektor informal tersebut sering
dilengkapi dengan suatu daftar kegiatan agak arbiter yang terlihat apabila
seseorang menyusuri jalan-jalan suatu kota dunia ketiga; pedagang kaki lima,
penjual koran, pengamen, pengemis, pedagang asongan, pelacur, pengojek, dan
lain-lain. Mereka adalah pekerja yang tidak terikat dan tidak tetap ( Hart, 1991).


Untuk lebih
memahami pengertian akan sektor informal, ada baiknya kita melihat
aktifitas-aktifitas informal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan-pekerjaan
dipinggiran kota-kota besar, tetapi bahkan juga meliputi berbagai macam
aktifitas ekonomi. Aktifitas-aktifitas informal tersebut merupakan cara
melakukan sesuatu yang ditandai dengan; (1) Mudah untuk dimasuki, (2) Bersandar
pada sumber daya lokal, (3) Usaha milik sendiri, (4) Operasionalnya dalam skala
kecil, (5) Padat karya dan teknologinya bersifat adaptif, (6) Keterampilan
dapat diperoleh di luar sistem sekolah formal, (7) Tidak terkena secara
langsung oleh regulasi dan pasarnya bersifat kompetitif.


Konsep
informal merupakan suatu jenis teori dualisme baru yang telah populer. Breman
(1991) menjelaskan bahwa fenomena dualisme di satu pihak menunjuk pada
perekonomian pasar yang biasa kapitalis, dan di pihak lain perekonomian
subsistensi di pedesaan dengan ciri utamanya sistem produksi pertanian yang
statis.


Dualisme
sosio-ekonomi yang berasal dari dalam tahap-tahap pembangunan baik pada sektor
formal maupun informal. Sektor informal dimaksudkan agar pekerja bisa dialihkan
dari sektor sub-sistem di desa agar dapat membantu meningkatkan produksi
non-pertanian. Para ekonom dan birokrat memandang bahwa kota dengan industri
modern sebagai pusat dinamika yang secara lambat laun mengubah sifat statis
dari tatanan pedesaan dengan ciri pertanian yang lamban berikut produktivitas
pekerja yang sangat rendah. Tetapi anggapan bahwa kelebihan pekerja yang ada
akan terserap dalam sektor modern belum terbukti. Apabila dibandingkan dengan
pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja di kota, ternyata beberapa dasa warsa
ini mengenai kesempatan kerja pada sektor formal terutama industri masih
ketinggalan.


Dualisme di kota
yang sekarang tampak di banyak negara sedang berkembang bukan terjadi karena
kontras yang semakin menghilang antara kutub pertumbuhan dinamis-modern dan
sektor tradisional-statis yang bertahan kokoh di lingkungan kota, melainkan
karena hambatan struktural dalam perekonomian dan masyarakat secara
keseluruhan. Tingkat industrialisasi yang rendah dan terjadinya kelebihan pekerja
dipandang sebagai sebab utama sistem dualistis dan telah berkembang di
kota-kota dunia ketiga. Oleh karena itu sektor informal terkadang
produktivitasnya jauh lebih rendah daripada pekerja di sektor modern di kota
yang tertutup bagi kaum miskin (
Breman, 1991; 18).


Batasan istilah
mengenai sektor informal sebagai sebuah fenomena yang sering muncul diperkotaan
masih dirasakan kurang jelas, karena kegiatan-kegiatan perekonomian yang tidak
memenuhi kriteria sektor formal atau terorganisir, terdaftar, dan dilindungi
oleh hukum terkadang dapat dimasukkan ke dalam sektor informal, yaitu suatu
istilah yang mencakup pengertian berbagai kegiatan yang seringkali tercakup
dalam istilah umum “usaha sendiri”. Di samping itu bisa dikatakan dengan
istilah lain bahwa sektor informal merupakan jenis kesempatan kerja yang kurang
terorganisir, sulit dicacah, dan sering dilupakan dalam sensus resmi, serta
merupakan kesempatan kerja yang persyaratan kerjanya jarang dijangkau oleh
aturan-aturan hukum.


 


b. Jenis-jenis
dan Indikator Usaha Sektor Informal


Sebagaimana
dikemukakan oleh Keith Hart, terdapat dua macam sektor informal jika dilihat
dari kesempatan memperoleh penghasilan, yaitu:


1.   Syah
terdiri atas: (a) Kegiatan-kegiatan primer dan skunder, misalnya; usaha
pertanian, perkebunan yang berorientasi pada pasar, kontraktor bangunan, dan
lain sebagainya (b) Usaha tersier dengan modal yang relatif besar, misalnya;
perumahan, transportasi, usaha-usaha untuk kepentingan umum, dan lain
sebagainya (c) Distribusi kecil-kecilan, meliputi; pedagang kaki lima, pedagang
pasar, pedagang kelontong, pedagang asongan, dan sebagainya (d) Transaksi
pribadi, misalnya pinjam-meminjam, pengemis atau pemulung (e) Jasa yang lain,
misalnya; pengamen, penyemir sepatu, tukang cukur, pembuang sampah, dan
sebagainya.


2.
Tidak syah, terdiri dari: (a) Jasa kegiatan dan perdagangan gelap pada umumnya;
penadah barang-barang curian, lintah darat, perdagangan obat bius/terlarang,
penyelundupan, pelacuran, dan sebagainya (b) Transaksi pencurian kecil
(pencopetan), pencurian besar (perampokan bersenjata), pemalsuan uang,
perjudian, dan sebagainya.


Sementara
itu indikator sektor informal sebagaimana diuraikan oleh Sukesi (2002) dalam
Safaria (2003:5) meliputi 11 hal, yaitu: (1) Kegiatan usaha tidak terorganisasi,
(2) Usaha tidak punya ijin, (3) Pola kegiatan usaha tidak teratur, (4) Tidak
ada kebijakan bantuan dari pemerintah, (5) Para pekerja mudah keluar masuk
tanpa ikatan atau kontrak tertentu, (6) Penggunaan teknologi yang sangat
sederhana, (7) Modal usaha tergolong kecil, (8) Tidak mesti memerlukan
pendidikan formal, (9) Pengelolaan usaha bisa dilakukan oleh pekerja atau
keluarga sendiri, (10) Produk atau jasa dikonsumsi oleh kalangan menengah ke
bawah, dan (11) Usaha dengan modal sendiri (Safaria, 2003:5).


 


c. Sektor Kerja Informal di Perkotaan


Beberapa
ahli ekonomi dan birokrasi percaya bahwa dengan adanya sumber daya yang lebih
banyak, pengelolaan yang lebih baik, dan pertumbuhan sektor informal yang lebih
kuat, kota dapat memberikan suatu harapan kehidupan yang lebih baik kepada
penduduknya. Oleh karena terdapat pemikiran secara optimisme terhadap masalah
tersebut, di antaranya adalah; pertama, inflasi di negara industri telah
meningkatkan biaya import bahan pangan dan mesin-mesin yang harus dipikul oleh
negara yang sedang berkembang. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang lebih lamban di
dunia barat dan aturan-aturan baru yang membatasi perdagangan telah mengurangi
permintaan akan hasil-hasil industri dari negara sedang berkembang. Ketiga,
melonjaknya harga minyak telah memperlemah kedudukan ekonomi negara sedang
berkembang. Oleh karena itu kemampuan ekonomi negara sedang berkembang
mengalami kesulitan terutama pertahanan, pertumbuhan dan percepatan kesempatan
kerja di kota.


Selanjutnya
sebagaimana dipaparkan oleh Keith Hart (1991) seorang antropolog dari Inggris,
ia telah melontarkan gagasan mengenai sektor kerja secara formal dan informal.
Sejak munculnya konsep itu banyak penelitian-penelitian dan kebijakan mulai
menyoroti masalah kesempatan kerja kelompok miskin di kota secara khusus.
Secara mendasar berdasarkan hasil analisa Hart, setelah mengamati kegiatan
penduduk di kota Accra, Nima, dan Ghana bahwa kesempatan memperoleh penghasilan
di kota, dapat dibagi menjadi dalam tiga kelompok, yaitu; formal, informal syah
dan tidak syah. Mengenai sektor kerja dengan penghasilan informal syah, Hart
mengelompokkan menjadi beberapa kreteria, yaitu: (a) Kegiatan-kegiatan primer
dan sekunder yang meliputi; pertanian, perkebunan yang berorientasi pada pasar,
kontraktor bangunan, pengrajin usaha sendiri, pembuat sepatu, penjahit,
pengusaha bird dan alkohol, (b) Usaha tersier dengan modal yang relative besar,
yaitu; perumahan, transportasi, usaha-usaha untuk kepentingan umum, spekulasi
barang-barang dagangan, kegiatan sewa-menyewa, (c)
Distribusi
kecil-kecilan yaitu; pengusaha makanan jadi, pedagang kelontong, pedagang kaki
lima, pelayan bar, pengangkut barang, agen atas komisi, dan penyalur, (d) Jasa
yang lain yaitu; pemusik (ngamen), pengusaha binatu, penyemir sepatu, tukang
cukur, pembuang sampah, juru potret, pekerja reparasi kendaraan maupun lainnya,
makelar atau perantara, dan (e) Transaksi pribadi yaitu; arus uang dan barang
pembelian maupun semacam pinjam-meminjam, dan pengemis (
Hart, 1991).


Kemudian
kesempatan memperoleh penghasilan secara informal tidak syah biasanya identik
dengan tindakan negatif, yaitu; pertama, jasa dalam bentuk kegiatan dan
perdagangan gelap misalnya; sebagai penadah barang curian, lintah darat (tukang
krekdit) dan pegadaian (dengan bunga yang tidak syah), pedagang obat bius,
pelacuran, mucikari (pilot boy),
suap-menyuap, korupsi politik, perlindungan kejahatan (protection rackets). Kedua, adalah transaksi dalam bentuk pencurian
kecil (misalnya; pencopetan), pencurian besar (misalnya pebongkaran dan perampokan
bersenjata), pemalsuan uang dan penipuan serta perjudian.


Berangkat dari
kajian di atas, dapat ditarik garis besar bahwa apabila mengacu pada pendapat
Hart, bahwa tukang ojek sepeda ontel merupakan profesi kerja masyarakat kota
yang berada pada sektor informal yang syah. Artinya mengenai jenis usaha pada
sektor informal tersebut terutama bagi mereka yang tidak menerima gaji dari
kesempatan kerja formal tetap berusaha sekuat tenaga dalam rangka
mempertahankan hidup.


Perumusan Hart
memberikan sumbangan yang berarti untuk memahami aktivitas penduduk miskin di
kota, walaupun dalam kenyataanya kegiatan syah dengan yang tidak syah dalam
sektor formal dan informal sukar ditarik garis pemisah yang tegas.
Hal ini terbukti di Indonesia kegiatan-kegiatan tidak
syah juga banyak ditemui dalam sektor formal di Jakarta.


Pendapat
Hart di atas diperkuat oleh Sethuraman (1991) yang menekankan sektor informal.
Istilah sektor informal, maksudnya adalah untuk membahas kegiatan ekonomi
berskala kecil. Sektor informal dimaksud sebagai suatu manifestasi dari situasi
pertumbuhan kesempatan kerja di negara sedang bekembang, karena itu mereka yang
memasuki kegiatan berskala kecil di kota, terutama bertujuan untuk mencari
kesempatan kerja dan pendapatan dari pada memperoleh keuntungan. Sektor ini
adalah berada pada kelompok miskin di kota, kelompok berpendidikan rendah,
tidak trampil, dan kebanyakan adalah para migran. Pendapat Sethuraman tersebut
secara nyata dapat dijadikan landasan untuk mengkaji tema penelitian ini,
karena secara kebetulan teori tersebut menjadi kenyataan terutama di wilayah
Jakarta (Sethuraman, 1991).


Seiring
dengan pendapat Sethuraman, Breman (1991) juga mengajukan konsep yang sama
mengenai jenis pekerjaan dalam sektor formal dan informal. Sektor formal digunakan
dalam pengertian pekerja bergaji atau harian dalam pekerjaan yang permanent,
seperti pekerjaan dalam perusahaan industri, kantor pemerintah, dan perusahaan
besar yang lain. Kemudian jenis pekerjaan dalam sektor informal merupakan jenis
kegiatan ekonomi yang bersifat mandiri, kurang terorganisir, dan tidak ada
sensus yang bersifat resmi dan sering tidak terjangkau oleh aturan-aturan
hukum, misalnya; pedagang kaki lima, penjual koran, anak-anak penyemir sepatu,
penjaga kios, pelacur, porter, pengemis, penjaja barang, pengemudi becak, sopir
bajai,  tukang ojek motor, serta tukang
ojek sepeda ontel.


Mengacu pada
pendapat Breman di atas, Mazumdar (1991) membedakan antara sektor formal dan
informal yang digunakan dalam analisis pasar tenaga kerja di kota. Distribusi
pendapatan yang menekankan bahwa terjadinya teori distribusi pendapatan
terletak pada faktor struktural daripada faktor sumber daya manusia. Dengan
kata lain, penghasilan yang rendah tidak dapat dijelaskan semata-mata dari segi
faktor produksi yang mempengaruhi besarnya penghasilan pekerja, tetapi terutama
ditentukan oleh tingkat kedudukannya di dalam pasar tenaga kerja yang
ditentukan secara kelembagaan. Perbedaan penting lainnya adalah antara pekerja
tetap dan pekerja harian. Pada sektor informal diharapkan menjadi suatu faktor
penting untuk menjelaskan perbedaan distribusi penghasilan kelompok pekerja
berpenghasilan rendah. Oleh karena itu mengenai distribusi pendapatan yang
diharapkan pada sektor informal menurut Mazumdar, pertama adalah masalah
tingkat penghasilan di dalam kedua subsektor perkotaan pada suatu waktu
tertentu. Kedua, penghasilan yang diterima oleh seorang pekerja selama hidupnya
(Mazumdar, 1991).


Guna memperkuat
argumentasi di atas beberapa pelaku akademisi melakukan penelitian, dan
penelitian serupa telah dilakukan oleh Sirait (2005), mengenai Pola Survival
Penganggur Terdidik: Studi di Wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan
Sekitarnya, dalam Jurnal Ilmiah UNIKA ATMAJAYA, Jakarta serta Djaja (2010). Dalam
penelitian tersebut secara sepintas memberikan persinggungan wacana mengenai
pekerjaan pada sektor informal di perkotaan yang telah lama menjadi sumber
penghidupan. Hal senada juga dipaparkan oleh Sudianto (2007), melalui hasil
penelitiannya mengenai Pedagang Kaki lima dan Solusi Pemecahannya di Propinsi
DKI Jakarta dalam Jurnal Ilmiah WIDYA, Jakarta. Hasil kajian tersebut secara
sepintas juga menyinggung masalah ekonomi khususnya para pedagang di Jakarta
yang tidak memiliki lokasi secara terstruktur, sehingga pekerjaan pada sektor
informal tersebut senantiasa menjadi kendala kehidupan kota Jakarta. Atas dasar
itulah maka perlu kiranya melakukan penelitian secara mendalam khususnya sektor
kerja informal di kota Jakarta dengan mengambil obyek tukang ojek sepeda ontel
(Sirait, 2005 dan Djaja, 2010; 14).


 


c.
Bukanlah Sebuah Cita-cita


Ibu kota lebih
kejam dari ibu tiri, demikian pepatah yang sering diucapkan oleh beberapa warga
urban di Jakarta. Artinya di tengah arus globaslisasi yang terus menggilas
masyarakat kecil dan seiring perkembangan zaman termasuk alat transportasi yang
semakin canggih dan serba modern, ternyata keberadaan ojek sepeda masih
diminati masyarakat. Bahkan alat transportasi zaman dahulu yang masih
menggunakan tenaga manusia ini masih mudah ditemui di kota metropolitan
khususnya wilayah Jakarta Utara.


Jenis angkutan
tersebut termasuk angkutan tradisional, namun berbeda dengan becak yang tidak
diakui, sehingga terus dikejar-kejar Pemprov. DKI Jakarta dengan dalih
melanggar Perda No.8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, akan tetapi jenis
angkutan ojek sepeda antel atau sepeda kayuh masih menjamur di wilayah Jakarta
Utara. Keberadaan tukang ojek sepeda ontel berbeda dengan tukang becak, profesi
sebagai tukang ojek tergolong aman, sebab hingga saat ini tidak terkena larangan
operasional walaupun terbatas mangkal di trotoar-trotoar.


Jika dihitung
berdasarkan tempat mangkal, tukang ojek sepeda ontel dapat dijumpai di sekitar
terminal Tanjung Priuk, Penjaringan, Pademangan, Sunter, Ampera, Kodim,
Swasembada, Koja, Cilincing, dan di sekitar Jakarta Kota. Kemudian jika
dibandingkan pada masa atau dekade tahun 1990-an, saat ini keberadaan ojek
sepeda jauh berbeda dan lebih banyak. Siswoyo misalnya, ia mengayuh ojek sepeda
ontel semenjak tahun 1975, tetapi hingga saat ini merasa nyaman dan “enjoe aja,
beberapa informan mengatakan bahwa hidup ini yang ada dan sebisanya saja mas,
kalau bisanya hanya “ngontel” sepeda ya nikmati saja, toh temannya juga banyak
kok”. Buktinya hampir di setiap sudut kota dan lokasi keramaian di Jakarta
Utara masih banyak sekali. Walaupun bekerja di bawah terik matahari dan
kemudian harus bersaing dengan ratusan tukang ojek sepeda motor, kenyataannya
masyarakat masih membutuhkan mereka.


Terkait dengan
keterpaksaan ekonomi, beberapa tukang ojek seperti (nama samaran); Mulyono
(40), Sutrisno (56), Saeku (50), Sundusin (34), serta beberapa pengojek lainnya
yang biasa mangkal di wilayah Jl. Swasembada, Tanjung Priuk mengatakan bahwa
menjadi tukang ojek bukanlah sebuah cita-cita dirinya di saat masih kecil. Akan
tetapi, nasiblah yang telah menentukan dirinya seperti sekarang ini. Menurutnya
dulu sempat bekerja di pabrik khususnya di daerah Plumpang, akan tetapi karena
perusahaannya bangkrut akhirnya di PHK tutur Sundusin yang mengaku telah
menyelesaikan kuliah D-III PG-AI STAI (gelar Amdp.) di Cirebon.


Mulai mangkal
tutur para pengojek pukul 05.30 dan kembali ke rumah pukul 22.00 bahkan bisa
lebih malam, dengan demikian waktu kerja berarti lebih lama dari para pekerja
di kantoran. Namun walaupun lebih lama, hasil pendapatan atau hasil sewa tidak
lebih banyak dibanding pekerja kantoran. Umumnya pendapatan perhari antara Rp.
20.000,- - Rp. 50.000,-. Pendapatan itu masih di pakai untuk ongkos sewa sepeda
(setoran kepada juragan), makan dua sampai tiga kali, serta pengeluaran lain
(beli rokok).


Seiring dengan perkembangan
teknologi khususnya peralatan transportasi, para juragan umumnya menawarkan
kepada tukang ojek untuk sewa motor. Akan tetapi beberapa pengojek menuturkan
bahwa apabila sama-sama menyewa lebih baik menyewa sepeda ontel dari pada sewa
motor, sebab sewa sepeda ontel/hari hanya Rp.2.500,- - Rp.3000,-, karena
setelah dipertimbangkan sewa motor banyak resikonya antara lain; pengeluaran
bahan bakar mahal, resiko berhadapan dengan penegak hukum (kepolisian) apabila
tidak memiliki surat-surat secara lengkap, sewa motor sangat mahal (antara Rp.
15.000,- sampai Rp. 20.000,-), bisa-bisa pengeluaran lebih banyak sehingga
keluarga tidak kebagian.


Walaupun
masyarakat Jakarta Utara telah disuguhkan berbagai jenis angkutan canggih, para
pengojek sepeda umumnya masih bersyukur karena masih banyak masyarakat yang
berminat memakai jasa ojek sepeda, bahkan banyak sekali yang mengaku langganan.
Para pelanggan umunya juga multi etnis (Tuan Singh warga keturunan India), Ahong
(warga keturunan Tionghoa), Sirait (Batak), Tini (Jawa), Daeng (Makasar), Olih
(Betawi), serta pelanggan lainnya. Penumpang (sewa) umumnya merasa aman, nyaman
tidak berdesakan dengan penumpang lainnya, tidak berlama-lama menunggu
angkutan, diantar sampai tujuan (ontel sepeda bisa masuk gang), dan ramah
lingkungan (tidak menambah polusi).


 


d.
Wisata Kota dan Transportasi Bebas Polusi


Penurunan
kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan
bahwa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi, baik melalui
penyuluhan kepada masyarakat maupun penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan
emisi. Jika mengacu pada perkembangan jumlah motor di Jakarta saat ini sudah
sangat tinggi. Pada tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor sudah mencapai angka 4
juta lebih. Jumlah ini lebih besar dibandingkan kendaraan roda empat yang
hingga saat ini mencapai 2 juta lebih. Sementara itu pada tahun 2009 kendaraan
bermotor mencapai 8-9 juta lebih, angka ini belum termasuk Bekasi, Tangerang,
dan Bogor.


Berdasarkan
kondisi tersebut pencemaran udara menimbulkan kerugian besar, terutama
masyarakat kehilangan pendapatan karena tidak bekerja gara-gara sakit yang
disebabkan polusi udara. Oleh karena itu ada baiknya terutama Pemerintah Daerah
Khusus Ibukota Jakarta terutama Jakarta Utara menggalakkan wisata kota yang
dimodifikasi dengan jenis tranportasi ramah lingkungan berupa ojek sepeda
ontel. Keberadaan jenis angkutan ojek sepeda ontel tersebut memang belum
mengatasi sepenuhnya terhadap polusi udara di Jakarta Utara, akan tetapi jenis
angkutan tersebut umumnya telah berpartisipasi mengantisipasi atau mengurangi
pencemaran lingkungan udara. Hal ini masih bisa dibuktikan di lorong-lorong
wilayah Jakarta Utara masih banyak sekali pengojek sepeda ontel terutama di
wilayah; Stasiun Jakarta Kota, Mangga Dua, Tanjung Priuk, Pademangan,
Penjaringan, hingga Cilincing dan sekitarnya.


 


PENUTUP


Kesimpulan



  1. Salah satu
    sebab terjadinya migrasi dan urbanisasi adalah masalah perekonomian di
    desa yang tidak menjanjikan, sementara Sumber Daya Manusia terkadang juga
    belum adanya peningkatan kualitas, hal ini mengakibatkan kota masih
    menjadi primadona untuk mengadu nasib, walaupun terkadang nasib seseorang
    juga belum beruntung.

  2. Terkait
    dengan lemahnya kualitas Sumber Daya Manusia, maka masyarakat urban
    cenderung mengandalkan kemampuan fisik dalam hal ini menggeluti jenis
    pekerjaan yang bersifat informal penuh dengan keterpaksaan, penghasilan
    kecil, namun keberadaanya membantu kelancaran ekonomi masyarakat, serta
    turut mengatasi kesehatan lingkungan terutama polusi udara.


Saran-saran



  1. Pemerintah
    daerah khususnya wilayah Jakarta Utara hendaknya mengakomodir melalui
    kebijakan-kebijakan khusus dalam menangani ketertiban lingkungan,
    mengingat keberadaan jenis ojek sepeda ontel hingga saat ini masih
    dibutuhkan oleh masyarakat sebagai salah satu alternative sarana
    transportasi, sehingga mestinya terjadi sinergi kerjasama dalam memenej
    sarana transportasi tersebut antara pemerintah daerah, pengojek, dan
    masyarakat umum.

  2. Pemerintah
    daerah hendaknya menseponsori dan menjadikan ojek sepeda ontel menjadi sarana
    obyek wisata budaya kota, dan kemudian dikemas dalam bentuk serta berbagai
    even sebagai identitas budaya kota.

  3. Kepada para
    akademisi diharapkan muncul penelitian serupa yang lebih obyektif dan
    mendalam, sehingga hasil kajian berikutnya lebih berbobot baik secara
    akademis, praktis, dan sosial kemasyarakatan.


 


DAFTAR PUSTAKA


Breman, Jan. Sistem Tenaga Kerja Dualistis: Suatu Kritik Terhadap Konsep Sektor
Informal
, disunting oleh Manning, dalam Urbanisasi,
Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota
. PPSK Universitas Gadjah Mada
Kerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1991.


Djaja, I Gusti Ngurah Made. Kemandirin Ekonomi dengan Pembangunan
Ekonomi Rakyat Seutuhnya
. dalam Majalah WIDYA Nomor 293. Kopertis Wilayah
III Jakarta. 2010.


Hart, Keith. Sektor Informal dan Struktur Pekerjaan di Kota. disunting oleh
Manning, dalam Urbanisasi, Pengangguran,
dan Sektor Informal di Kota
. PPSK Universitas Gadjah Mada Kerjasama dengan
Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 1991.


Hofsteede, W. Pembangunan Masyarakat (Kumpulan Karangan) Society In Transition Selected Essays. Gadjah Mada University
Press. Yogjakarta. 1994.


Koentjaraningrat. Metode-Metode Penelitian Masyarakat, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997


Manning, Chris. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor
Informal di Kota
. PPSK Universitas Gadjah Mada Kerjasama dengan Yayasan
Obor Indonesia. Jakarta. 1991.


Poerwanto, Hari. Manusia dan Lingkungan (Perspektif
Antropologi), Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 2000.


Sethuraman, S.V. Sektor Informal di Negara Sedang Berkembang.
disunting oleh Manning, dalam Urbanisasi,
Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota
. PPSK Universitas Gadjah Mada
Kerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1991.


 


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Artikel Penelitian" Lainnya

PENCARIAN

Lemlit Loading
UHAMKA Diseminasikan Hasil Riset Dalam Konggres Internasional di Paris
2014-07-20 16:24:14 - 66 views
Psikologi UHAMKA kembali menunjuk...
Panduan Unggah Laporan Penelitian DIKTI Secara OnLine
2014-07-17 16:50:46 - 188 views
Panduan Unggah Laporan Penelitian...
Materi Pelatihan Dosen (Panduan Penelitian)
2014-06-26 01:10:13 - 180 views
  1. Panduan Penelitian Reg...
Sosialisasi Penelitian DIKTI 2014 di UHAMKA
2014-06-20 11:54:56 - 187 views
Materi Sosialisasi : 1. Panduan ...
Pemenang Penelitian Hibah DIKTI 2014
2014-06-18 10:03:28 - 319 views
Rektor UHAMKA, Prof Dr H Suyatno ...
Hasil Survei Paparan Asap Rokok Kepada Perokok Pasif
2014-05-29 00:14:39 - 274 views
Dampak asap rokok bukan hanya ter...
Muhibah Penelitian Ke Maluku Utara
2014-05-28 19:16:41 - 225 views
Lembaga Penelitian dan Pengembang...
Apresiasi Seni Mahasiswa
2014-05-28 17:47:37 - 193 views
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan ...
Cari, Dekati, Cintai Kebudayaan Indonesia
2014-05-28 17:30:11 - 207 views
Badan Eksutif Mahasiswa (BEM) Fak...
Prof Dr Suyatno, MPd Menandatangani SPK Penelitian HIBAH DIKTI
2014-05-14 10:50:01 - 239 views
Atas nama rektor Universitas Muha...

Pesan Singkat

Statistik Situs

Visitors : 742122 Org
Hits : 2072589 Hits
Month : 3410 Users
Today : 276 Users
Online : 41 Users

Top Download

LEMLITBANG DAN LPPM

Free counters!