MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KONSEP PEMBAGIAN DAN PERKALIAN
Selasa, 14 Juni 2011 15:04:06 - oleh : lemlit - views 20058
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KONSEP PEMBAGIAN DAN PERKALIAN

 


Drs. H. Nawawi, M. Si


 


Abstrak


Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika dalam
aritmatika dengan menggunakan metode pengajuan soal (problem posing) di kelas II SDN Cakung Barat 03 Pagi Jakarta Timur.
Dengan kata lain manfaat hasil penelitian ini dapat juga dipandang dari dua sisi,
yaitu secara teoritis maupun praktis
. Tempat penelitian ini dilaksanakan di Kelas II SDN
Cakung Barat 03 Pagi yang beralamat di Jalan Raya Bekasi Km. 23 Kelurahan
Cakung Barat Kecamatan Cakung Jakarta Timur
. Desain penelitian tindakan kelas
ini mengikuti prosedur yang ada yaitu sebanyak tiga siklus.
Kesimpulan dalam
penelitian bahwa bahwa hasil belajar matematika siswa khususnya
perkalian, pembagian dan
operasi hitung campuran
dapat ditingkatkan dengan metode pembelajaran problem posing. Berdasarkan intervensi
tindakan yang diharapkan terhadap hasil belajar matematika sebesar
70% dari 10 soal,
ternyata siswa mampu menguasai materi
perkalian, pembagian dan operasi hitung campuran
dengan baik.
Implikasi dari hasil penelitian ini yang dapat diterapkan untuk kegiatan
pembelajaran matematika dengan menggunakan
metode problem posing adalah menetapkan garis besar langkah-langkah
pembelajaran yang akan dilaksanakan. Langkah-langkah tersebut adalah persiapan,
pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran.
Pada penelitian ini
juga didapat data yang menunujukkan bahwa penerapan metode problem posing berpengaruh pada peningkatan hasil belajar siswa
dalam mata pelajaran matematika. Terlihat pada siklus pertama didapatkan nilai
tertinggi 7 hanya di dapat oleh 14 orang siswa. Sedamgkan pada siklus II sudah
terlihat peniingkatan dimana nilai tertinggi 7 dicapai oleh 16 orang siswa.
Sementara pada siklus III semakin terlihat pengkatan hasil belajar siswa yang
signifikan dimana nilai tertinggi yaitu 9 dan dicapai oleh 9 siswa.


 


Keywords :


Pendahuluan


Pembelajaran
matematika siswa kelas II di SDN Cakung Barat  selama ini mengalami kemunduran
. Hal ini disebabkan siswa kurang membaca dan memahami kalimat-kalimat yang bersifat
penalaran.
SIswa
baru mampu memahami hal-hal yang bersifat pengetahuan. Oleh sebab itu, sudah
selayaknya penulis
sebagai guru sekaligus sebagai peneliti di kelas dua akan
me
ngubah
kebiasaan
tersebut menjadi lebih termotivasi. Motivasi pembelajaran yang akan diberikan adalah siswa harus
mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan masalah-masalah dalam
menyelesaikan soal-soal matematika. Lebih jauh The Professional Standards for Teaching Mathematics  menyarankan hal yang penting bagi guru-guru
untuk menyusun soal-soal mereka sendiri.


Setiap siswa membutuhkan pembelajaran yang sesuai dan dapat membantu
meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, berbagai metode, media
dan cara mengajar dibutuhkan untuk memelihara perhatian siswa serta
membangkitkan minatnya untuk belajar lebih lanjut. Efektivitas suatu metode
mengajar dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti bakat dan kecerdasan siswa,
materi pelajaran, serta sistem pengajaran pelajaran itu.


Siswa dalam mengikuti pembelajaran memerlukan beraneka pengalaman yang
tepat untuk mengembangkan kesadaran dan pengertian mengenai rumitnya lingkungan
hidup, dengan kesadaran
seperit ini diharapkan siswa dapat megnembangkan sikap dan
rasa tanggung jawab untuk melakukan sesuatu. Apabila ada kesenjangan antara
keterampilan siswa serta kemampuan belajarnya dengan kemampuan yang diharapkan
untuk penyelesaian tugas baru dengan baik maka siswa akan gagal mencapai tujuan
yang dikehendaki.


Hasil belajar matematika menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan siswa
mampu memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan
mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah. Siswa juga diharapkan mampu memiliki sikap menghargai
kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan
minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah.


Di
SDN Cakung Barat 03 Pagi, dalam pembelajaran matematika, banyak guru yang
kurang memperhatikan atau tidak mempedulikan bakat dan kecerdasan yang dimiliki
siswa. Guru beranggapan bahwa semua siswa mempunyai bakat dan kecerdasan yang
sama. Kegiatan belajar yang dilakukan seringkali tidak menyenangkan. Siswa
dituntut untuk dapat melakukan pembelajaran
secara maksimal. Sementara kemampuan atau
kecerdasan
untuk
mendukung hal itu
tidak dimiliki. Walaupun ada penanam konsep kepada anak,
namun itu hanya sebuah ceramah di kelas, sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan sangat menjemukan siswa.
Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa berdasarkan hasil ulangan harian
matematika
di kelas 2 pada semester kedua tahun 2010, tentang perkalian dan pembagian
dengan menggunakan soal cerita menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Hanya 3
orang siswa yang mampu mencapai 70% dalam
menguasai materi pelajaran.


Mata
pelajaran matematika perlu diberikan pada semua peserta didik mulai dari
sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan ber
pikir logis,
analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan berkoordinasi.
Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan
memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada
keadaan yang selalu berubah-ubah, tidak pasti, dan kompetitif.


Salah
satu metode yang sedang marak dilakukan oleh guru adalah metode problem posing (pengajuan soal). Problem posing adalah kegiatan perumusan
soal atau masalah oleh peserta didik. Peserta didik hanya diberikan situasi
tertentu sebagai stimulus dalam merumuskan soal/masalah.  Berkaitan dengan situasi yang dipergunakan dalam
kegiatan perumusan masalah/soal dalam pembelajaran matematika, soal dapat
dibangun melalui beberapa bentuk, antara lain gambar, benda manipulatif,
permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal, dan solusi dari soal. Problem posing dapat juga dibedakan menjadi
dua macam situasi atau konteks, yaitu konteks formal bisa dalam bentuk simbol
(kalimat matematika) atau dalam kalimat verbal, dan kontek informal berupa
permainan dalam gambar atau kalimat tanpa tujuan khusus.
Mengingat pentingnya kemampuan siswa dalam
penguasaan matematika, maka peneliti tertarik untuk meningkatkan hasil belajar
matematika melalui metode pengajuan soal (problem
posing)
melalui penelitian tindakan kelas, khususnya proses pembelajaran
aritmatika khususnya perkalian dan pembagian di kelas II Sekolah Dasar.


 


Metode
Penelitian


Tempat
penelitian ini dilaksanakan di Kelas II SDN Cakung Barat 03 Pagi yang beralamat
di Jalan Raya Bekasi Km. 23 Kelurahan Cakung Barat Kecamatan Cakung Jakarta
Timur.
Penelitian ini
menggunakan metode action research
classroom
atau penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian dengan menempuh
langkah-langkah yang dilakukan secara siklus.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga
siklus.
Subjek dalam penelitian
ini adalah siswa kelas II SDN Cakung Barat 03 Pagi sebanyak 38 orang. Jumlah
siswa laki-laki sebanyak
23 orang dan jumlah siswa perempuan 25 sebanyak orang. Partisipan yang
terlibat dalam penelitian ini berjumlah dua orang sebagai kolaborator, antara
lain guru kelas III dan Kepala Sekolah SDN Cakung Barat 03 Pagi.


 


Hasil dan
Pembahasan


a.      Siklus I


1.      Perencanaan


Diperoleh data responden setelah evaluasi awal sebanyak
35 responden. Pada siklus I peneliti akan memberikan tindakan berupa:


1.      Peneliti menentukan 3 kali pertemuan dalam siklus I.


2.      Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peneliti bersama
kolaborator membuat rencana pembelajaran matematika sebagai berikut:


a.       Materi perkalian pada pertemuan I


b.      Materi pembagian pada pertemuan II


c.       Materi operasi hitung campuran pada pertemuan III


3.      Selama pelaksanaan pembelajaran, peneliti akan diamati
oleh 2 orang kolaborator.


4.      Waktu pembelajaran selama 2 x 35 menit.


 


2.      Pelaksanaan/Tindakan


Pada siklus I, pembelajaran dilaksanakan pada tanggal 10,
14, dan 17 Maret 2010. pembelajaran ini dimulai pada pukul 08.00 s/d 09.00.
Siswa diberitahu tujuan pembelajaran pada hari itu.
Pada pertemuan pertama, peneliti
memberikan pembelajaran dengan materi perkalian. Pada pertemuan ini peneliti
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang
telah dibuat. Selama pembelajaran, peneliti diamati oleh dua orang kolaborator.
Kegiatan yang dilakukan siswa dan peneliti ditulis dalam bentuk terstruktur
yang telah dibuat bersama-sama.
Pada pertemuan kedua, peneliti memberikan pembelajaran dengan materi
pembagian. Siswa membuat soal dengan media dan alat pembelajaran yang telah
disediakan. Apabila siswa merasa kesulitan, peneliti selaku pemberi materi
langsung, memberikan bimbingan secara individual.


            Pada pertemuan ketiga, pembelajaran yang
dilaksanakan dengan materi operasi hitung campuran. Pada pertemuan ketiga ini,
peneliti memberikan evaluasi siklus kepada masing-masing siswa.
Pengamatan dan observasi yang dilakukan
kolaborator dilakukan tidak hanya pada pertemuan I saja, namun pada pertemuan
II dan ketiga pun tetap dilaksanakan. Hasil pengamatan dan evaluasi siklus I
ini akan dijadikan bahan refleksi peneliti untuk menentukan langkah selanjutnya
.


 


3.      Pengamatan


Pengamatan
dilaksanakan selama pembelajaran dan evaluasi siklus berlangsung. Pengamatan
ini dilakukan oleh 2 orang kolaborator, yaitu guru kelas dan teman sejawat.
Pengamatan dilakukan terhadap siswa dan peneliti.
Selama pembelajaran, kolaborator mengamati kegiatan
siswa berdasarkan panduan observasi yang terstruktur dan telah dibuat
bersama-sama dengan peneliti. Selain mencatat kegiatan siswa, kolaborator juga
mengamati tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Pengamatan ini akan dijadikan
refleksi untuk pembelajaran siklus II.


 


4.      Refleksi


Berdasarkan hasil evaluasi dan pengamatan pada siklus I,
maka peneliti menyimpulkan siswa belum dapat memahami materi perkalian,
pembagian dan operasi hitung campuran pada mata pelajaran matematika dengan
baik. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan siswa yang belum mampu menjawab lebih
75% dari intervensi tindakan yang diharapkan. Pada siklus I ini sebanyak 14 orang
siswa mendapat nilai 7, 9 siswa mendapat nilai 6, 10 orang siswa mendapat nilai
5, dan 2 orang siswa mendapat nilai 4.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian tindakan
pembelajaran matematika khususnya materi perkalian, pembagian, dan operasi hitung
campuran dengan menggunakan metode problem
posing
belum dapat meningkatkan secara signifikan. Oleh karena itu,
peneliti akan melaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode
problem posing pada siklus II.


 


b.      Siklus II


1.      Perencanaan


Berdasarkan
refleksi pada siklus I, pada siklus II peneliti akan memberikan tindakan
berupa:


1.      Siswa dibagi menjadi 6 kelompok untuk mempermudah
pembelajaran, dengan rincian sebagai berikut


a.       Siswa yang mampu berbahasa tulis dan lisan.


b.      Siswa yang mampu berbahasa tulis, tetapi tidak
mampu berbahasa lisan


c.       Siswa yang mampu berbahasa lisan, tetapi tidak
mampu berbahasa tulis


d.      Siswa yang tidak mampu berbahasa tulis dan lisan


2.      Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peneliti bersama
kolaborator membuat rencana pembelajaran
matematika dengan materi perkalian,
pembagian dan operasi hitung campuran
air dengan menggunakan metode problem posing.


3.      Membuat rencana pembelajaran yang memberikan kondisi yang
berbeda pada tiap-tiap kelompok sesuai dengan kemampuan siswa.


4.      Selama pelaksanaan pembelajaran, peneliti akan diamati
oleh 2 orang kolaborator.


5.      Waktu pembelajaran selama 2 x 35 menit.


 


2.      Pelaksanaan/Tindakan


Peneliti memberi penjelasan materi kepada siswa mengenai
“perkalian, pembagian, dan operasi hitung campuran” diakhir pembelajaran
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. dengan membagi kelas menjadi empat
kelompok dengan nama kelompok yang telah dipilih siswa berdasarkan kelompok
yang sudah dibentuk. Kemudian peneliti mengadakan evaluasi dengan evaluasi
siklus. Kepada setiap kelompok, sudah tentu tidak bisa diperlakukan sama,
melainkan harus diperlakukan sesuai dengan kemampuan yang ada oleh karena itu
diperlukan sarana untuk memfasilitasi keragaman yang didapati di dalam kelas
tersebut.


Untuk kelompok siswa dengan kemampuan yang pertama, sudah barang
tentu semua sarana yang disediakan pasti dapat direspons oleh mereka. Sedangkan
untuk kelompok siswa dengan kemampuan kedua, Tanya - jawab di kelas, diskusi di
kelas dan di luar kelas, merupakan sarana yang tepat untuk membantu siswa
meningkatkan prestasinya, adapun untuk kelompok siswa dengan kemampuan yang
keempat, maka sarana pilihan tugas seperti : Menjawab soal kasus yang
berhubungan dengan perkalian, perkalian dan operasi hitung campuran merupakan
pilihan -pilihan yang dapat mereka gunakan untuk memacu peningkatan
prestasinya.


 


3.      Pengamatan


Pengamatan
dilaksanakan selama pembelajaran dan evaluasi siklus berlangsung. Pengamatan
ini dilakukan oleh 2 orang kolaborator, yaitu guru kelas dan teman sejawat.
Pengamatan dilakukan terhadap siswa dan peneliti.
Selama pembelajaran, kolaborator mengamati kegiatan
siswa berdasarkan panduan observasi yang terstruktur dan telah dibuat
bersama-sama dengan peneliti. Selain mencatat kegiatan siswa, kolaborator juga
mengamati tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Pengamatan ini akan dijadikan
refleksi untuk
menentukan langkah selanjutnya.


 


4.      Refleksi


Berdasarkan hasil evaluasi dan pengamatan pada siklus I,
maka peneliti menyimpulkan siswa sudah dapat memahami
 materi perkalian, pembagian dan operasi hitung
campuran pada mata pelajaran matematika dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan
kemampuan siswa yang belum mampu menjawab lebih 75% dari intervensi tindakan
yang diharapkan. Pada siklus I ini sebanyak 14 orang siswa mendapat nilai 7, 9
siswa mendapat nilai 6, 10 orang siswa mendapat nilai 5, dan 2 orang siswa
mendapat nilai 4.


Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian tindakan
pembelajaran
matematika
khususnya materi perkalian, pembagian dan operasi hitung campuran
dengan
menggunakan metode
problem posing  dapat meningkatkan secara signifikan. Hal ini
dibuktikan perbandingan skor yang diperoleh siswa antara sebelum diberikan
tindakan dengan setelah diberikan tindakan.


 


c.       Siklus III


1.      Perencanaan


Berdasarkan
refleksi pada siklus I, pada siklus II peneliti akan memberikan tindakan
berupa:


1.      Siswa dibagi menjadi 6 kelompok untuk mempermudah
pembelajaran, dengan rincian sebagai berikut


a.       Siswa yang mampu berbahasa tulis dan lisan.


b.      Siswa yang mampu berbahasa tulis, tetapi tidak
mampu berbahasa lisan


c.       Siswa yang mampu berbahasa lisan, tetapi tidak
mampu berbahasa tulis


d.      Siswa yang tidak mampu berbahasa tulis dan lisan


2.      Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peneliti bersama
kolaborator membuat rencana pembelajaran
matematika dengan materi perkalian,
pembagian dan operasi hitung campuran
air dengan menggunakan metode problem posing.


3.      Membuat rencana pembelajaran yang memberikan kondisi yang
berbeda pada tiap-tiap kelompok sesuai dengan kemampuan siswa.


4.      Selama pelaksanaan pembelajaran, peneliti akan diamati
oleh 2 orang kolaborator.


5.      Waktu pembelajaran selama 2 x 35 menit.


 


2.      Tindakan


Peneliti
memberiksn penjelasan materi lepada siswa mengenai perkalia, pembagian, dan
operasi hitung campuran dan diakhir pembelajaran dilanjutkan dengan sesi tanya
jawab. Dimana dibagi empat kelompok dan kemudian peneliti mengadakan evaluasi
dengan evaluasi siklus. Setiap kelompok haru diperlakukan sesuai dengan
kemampuas yang ada oleh karena itu diperlukan sarana untuk memfasilitasi
keragaman tersebut. Untuk kelompok siswa dengan kemampuan yang pertama sudah
tentu semua sarana yang disediakan pasti dapat di respons. Untuk kelompok siswa
dengan kemampuan kedua, sarana yang tepat untuk membantu meningkatkan
prestasinya adalah tanya jawab, diskusi di dalam maupun di luar kelas.
Sedangkan untuk siswa dengan kemampuan keempat maka sarana yang dipilih adalah sarana
tugas seperti menjawab soal yang berhubungan dengan perkalian, pembagian, dan
operasi hitung campuran yang dapat diplih mereka sebagai pemacu peningkatan
prestasi belajar.


 


3.      Pengamatan


Pengamatan
dilakukan selama pembelajaran  dan
evaluasi siklus berlangsung. Pengamatan ini dilakukan oleh 2  orang kolaborator yang terdiri dari guru
kelas dan teman sejawat. Pengamatan ini dilakukan terhadap peneliti dan siswa.
Selama pembelajaran, kolaborator mengamati kegiatan siswa berdasarkan panduan
obseravasi yang terstuktur dan telah dibuat bersama – sama dengan peneliti.
Selain mecatat kegiatan siswa, kolaborator juga mengamati tindakan yang
dilakukan oleh peneliti. Pengamatan ini dijadikana refleksi untuk memntukan
langkah selanjutnya.


 


 


 


4.      Refleksi


Berdasarkan
hasil evaluasi dan pengamatan pada siklus III, maka peneliti menyimpulkan siswa
sudah dapat memahami materi perkalian, pembagian, dan operasi hitung campuran
pada mata pelajaran matematika dengan baik. Hal didukung dengan kemampuan siswa
yang belum mampu menjawab lebih dari 75% dari intervensi tindakan yang
diharapkan. Pada siklus III ini sebanyak 9 siswa mampu mendapat nilai 9, 21
siswa mendapat nilai 8, 3 osiswa mendapat nilai 7, dan 2 siswa yang mendapat
nilai 6. Hasil analisa data ini menunjukkan bahwa pemberian tindakan
pembelajaran matematika khususnya materi perkalian, pembagian, dan operasi
hitung campuran dengan menggunakan metode problem posing dapat meningkat secara
signifikan. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan perbandingan skor yang
diperoleh siswa antara sebelum diberi tindakan dengan setelah diberi tindakan.


 


Kesimpulan
dan Saran


1.      Kesimpulan


Berdasarkan teori dan hasil penelitian yang telah
dipaparkan, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika
siswa khususnya
perkalian, pembagian dan operasi hitung campuran dapat
ditingkatkan dengan
metode pembelajaran problem posing. Berdasarkan
intervensi tindakan yang diharapkan terhadap hasil belajar matematika sebesar
70% dari 10 soal,
ternyata siswa mampu menguasai materi
perkalian, pembagian dan operasi hitung campuran
dengan baik.


Implikasi dari hasil penelitian ini yang dapat diterapkan
untuk kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan
metode problem posing adalah
menetapkan garis besar langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Langkah-langkah tersebut adalah persiapan, pelaksanaan pembelajaran, dan
pelaksanaan evaluasi pembelajaran.


Pada persiapan pembelajaran, alat peraga yang digunakan
disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ekonomi dan kognitif siswa. Hal ini
berfungsi agar alat peraga yang digunakan mudah dikenali dan dipahami cara
kerjanya, serta mudah mencari atau membelinya. Pertemuan dilaksanakan selama 3
kali.
Untuk
pelaksanaan evaluasi pembelajaran, peneliti seringkali membuat tes lisan di
tengah dan di akhir pembelajaran.


 


2.      Saran


1.      Bagi guru matematika atau guru SD kelas II, hendaknya
melaksanakan pembelajaran matematika secara optimal dengan membuat perencanaan
yang lebih efektif serta memperhitungkan faktor intern yang dimiliki siswa dan
faktor ekstern yang diterima siswa selama pembelajara
n. Alat peraga sebagai media mempermudah
siswa dalam memahami materi dalam pelajaran matematika haruslah selalu
dipikirkan, dibuat, dan dimodif agar siswa lebih mudah memahami proses penggunaannya.


2.      Bagi peneliti selanjutnya, agar mengembangkan kembali
pembelajaran matematika khususnya
perkalian, pembagian dan operasi hitung campuran
dengan menggunakan metode, media dan alat evaluasi yang lainnya
.


 


DAFTAR PUSTAKA


Ngalim, M.,
Purwanto, Psikologi Pendidikan,
Bandung, Remadja Karya, 1995.


Ngalim, M., Purwanto, Prinsip-Prinsip
dan Teknik Evaluasi
, Bandung, Remadja Karya, 1997.


Rochiati Wiriatmadja, Metode
Penelitian Tindakan Kelas
, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2005.


Sutiarso, Pembelajaran
Problem Posing
, Jakarta, ....., 2000.


Tombokan Runtukahu, Pengajaran Matematika Bagi Anak-Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta,
Depdikbud, 1995


Winkel, W., S., Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, Jakarta, PT Gramedia,
1986


 


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Artikel Penelitian" Lainnya

PENCARIAN

Lemlit Loading
APTISI DKI Gelar Work shop Penyusunan Hibah Penelitian
2014-04-16 08:02:24 - 62 views
Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta ...
NIK (NID) DOSEN UHAMKA
2014-04-11 00:11:05 - 36 views
Dosen-Tenaga Pendidik N I D Nam...
Daftar Kode Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
2014-04-11 00:07:47 - 16 views
Kode PTNNOMOR KODE PERGURUAN TIN...
Kirim Proposal Hibah ke Lemlit Secara On Line
2014-03-27 22:47:43 - 156 views
Sejak tahun 2012 Lemlitbang Uhamk...
Konfirmasi Perkuliahan Seminar 8E Teknik Elektro
2014-03-26 09:25:35 - 90 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Konfirmasi Tugas Mata Kuliah Perancangan WEB 6E Teknik Elektro
2014-03-25 11:10:26 - 122 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Konfirmasi Tugas Mata Kuliah Arsitektur Komputer
2014-03-24 23:36:34 - 240 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Kerjasama Penelitian Dengan Deakin University Australia
2014-03-23 00:25:14 - 43 views
Lemlitbang UHAMKA bergabung dalam...
Konfirmasi Tugas Kuliah Sistem Linier 4TE
2014-03-18 13:38:39 - 188 views
Berikut adalah wahana untuk mengk...
Pemasukan Proposal Penelitian Desentralisasi 2014
2014-03-14 11:39:41 - 325 views
(Pandauan penulisan proposal pene...

Pesan Singkat

Statistik Situs

Visitors : 509304 Org
Hits : 1689288 Hits
Month : 3949 Users
Today : 327 Users
Online : 11 Users

Top Download

LEMLITBANG DAN LPPM

Free counters!