Konsep Diri Eks Wanita Tuna Susila di Panti Sosial
Jum`at, 27 Mei 2011 08:03:47 - oleh : lemlit - views 4619
Konsep Diri Eks Wanita Tuna Susila di Panti Sosial

Abstract


The unannounced examination
(or in government term means “social reach”) that has been done by the government
when the prostitute was done their activities as a prostitute, has made a big
psychology changes, especially when they have some guidance from the
rehabilitation staff. They become someone different than before and it is also
have a new self concept. The arrest tragedy that took them to the rehabilitation
has made social changes and different new awareness, before they took to the
rehabilitation.


In general this research,
to see how the rehabilitation program is, how’s the interaction, social adaptation,
and also the self concept of ex prostitute before and after joins the
rehabilitation.


This research will be very
interesting to be done, because when researcher revealed the subjective reality
from one prostitute that enter and join the rehabilitation process, the
adaptation readiness also will be revealed. This research was done in Bina
Karya Wanita “Harapan Mulya” Rehabilitation Kedoya Jakarta, which is feel very
unique and as a justification to be done more over, because by using the
fenomenology approach and existensialism will be revealed the awareness of ex
prostitute in interaction in the rehabilitation. This research that was going
on emic was done by deeper interview method, observation, and documentation
study as a technic in getting the data.


This research shows that
the self concept of ex prostitute is negative before enter the rehabilitation
(when become a prostitute) based on the subject motivation to be a prostitute,
and also as a self image of physic perception, mental, and social during as a
prostitute. Beside that it is also found self concept polarization become a
positive and negative self concept after join the rehabilitation based on the
the perception of physic, social, and mental. From the self concept
polarization, it is formed to be three typology of ex prostitute; they are
optimistic ex prostitute, dilemmatic ex prostitute, and pessimistic ex
prostitute. In social adaptation readiness concept context, it is also found
three classification of social adaptation readiness of ex prostitute in Bina
Karya Wanita “Harapan Mulya” Rehabilitation Kedoya Jakarta to be: ex prostitute
ready to adaptation, ex prostitute unready and pragmatic or conditional ex
prostitute. In the communication, ex prostitute with the rehabilitation staff
is happen in circular way and instructional and normative context, whereas the
communication with the other prostitute is happen with dialogist and circuler.


Keyword: Ex Prostitute, Self Concept, Fenomenology,
Communication, Rehabilitation


 


I. Pendahuluan


1.1 Konteks Penelitian


            Di antara sekian
masalah yang cukup serius yang dialami bangsa kita sebagai pengaruh dari
globalisasi ini ialah merajalelanya wanita tuna susila (WTS) dan atau sering
disebut pekerja seks komersial (PSK). Data ini tercatat bahwa fakta angka tahun
2006 jumlah Pekerja Seks Komersial (perempuan) mencapai 240 ribu dan 30 persen
PSK Indonesia adalah anak-anak dibawah usia 18 tahun. (Dinas Sosial Prop.DKI
Jakarta, 2006)


            Maraknya pekerja
seks komersial atau pelacur ini di Jakarta mengharuskan Pemda Propinsi DKI
Jakarta menyusun kebijakan dan menerapkan langkah-langkah penganggulangan yang
terpadu dan menyeluruh dalam suatu sistem yang efektif dan komprehensif, baik
penegakan hukum untuk mengurai suplai (supply
reduction
) maupun pendekatan kesejahteraan untuk menekan dan mengatasi laju
jumlah WTS di Jakarta. Pada kenyataannya usaha-usaha untuk menanggulangi
permasalahan ini tetap sulit untuk mencapai hasil yang optimal. Permasalahannya
selain terletak pada terbatasnya jangkauan dan kemampuan pemerintah, juga
karena kompleksitas rumitnya seputar masalah pelacuran ini. Berkembangnya
kasus-kasus dan semakin pesatnya jumlah WTS ini berkaitan langsung dengan
kesehatan mental masyarakat serta sebagai akumulasi dari berbagai masalah
sosial dan kepribadian. Berangkat dari hal ini pula penanganan yang bersifat
kemasyarakatan dengan berbasis masyarakat mempunyai arti yang sangat penting.


            Sesuatu hal yang
wajar manakala dalam diri setiap manusia memiliki hasrat seksualitas sebagai
anugerah dari Sang Pencipta. Secara kodrati seksualitas merupakan kebutuhan
biologis setiap individu. Namun anugerah tersebut nampaknya terkadang dijadikan
suatu penyimpangan seksualitas dan komersialisasi dalam memenuhi kebutuhan
hidup. Apapun alasannnya dan bagaimanapun bentuknya pekerja seks komersial,
wanita tuna susila, pelacuran, dan perzinaan dilarang keras baik oleh agama
maupun masyarakat. Semua agama di muka bumi ini melarang terhadap kegiatan
prostitusi, terlebih ajaran agama Islam telah memberikan pelarangan yang keras
karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang keji dan tercela sesuai
dengan firman Allah surat
Al-Isra ayat 32 yaitu:


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى
إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
( أ لإسراء: 32)


             Artinya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji, tidak sopan dan suatu jalan yang buruk”
(Q.S. Al-Isra: 32)


 


            Pelacur,
ayam, lonte, WTS, dan PSK adalah sedikit dari sekian banyak antrian panjang
istilah yang kerap terdengar ketika seseorang menunjuk pada sesosok perempuan
penjaja “daging mentah” pemuas nafsu birahi kaum lelaki hidung belang ini.
Persoalan di sekitar semua istilah transaksi “bisnis lendir” itulah masyarakat
memberikan julukan atau labeling yang
sedikit banyak memberikan kontribusi terhadap konsep dirinya. Ini kemudian
dikonstruksi untuk mengontrol aktivitas seks yang tidak sesuai dengan norma
masyarakat (Koentjoro, 2004). Akan tetapi julukan yang dianggap suatu kewajaran
tersebut jangan dijadikan suatu alasan untuk tidak menerima mereka sebagai
bagian dari anggota masyarakat.


Penangkapan atau razia yang dilakukan pemerintah saat
mereka beraktivitas sebagai pelacur, membuat terjadinya perubahan psikologis
terutama sekali ketika menjalani pembinaan di panti rehabilitasi selama 3-6
bulan bulan pasca penangkapan/razia. Mereka menjadi orang yang berbeda dari
sebelumnya dan mungkin mempunyai konsep diri yang baru. Tragedi penangkapan
yang membawanya ke tempat rehabilitasi membawa seorang pelacur/WTS mengalami
perubahan dunia sosial dan kesadaran yang baru yang berbeda ketika sebelum
berada dalam panti rehabilitasi. Perubahan tersebut membuat mereka melakukan
introspeksi dan redefinisi terhadap dirinya, sehingga akhirnya ia mempunyai
konsep diri yang baru, karena konsep diri bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir
melainkan terbentuk dari pengalamannya. Mead (dalam Sobur, 2003:512) memberikan
definisi diri sebagai produk sosial yang dibentuk melalui proses interaksi dan
organisasi pengalaman-penglaman psikologis.


Dari semua tindak komunikasi yang paling penting adalah
diri (self), siapa anda dan bagaimana
anda mempersepsikan diri sendiri dan orang lain akan memengaruhi komunikasi
anda dan tanggapan anda terhadap komunikasi orang lain (Rahman, 2004:96). Ini
menjadi implikatif dan kompleks ketika para mantan WTS mempersepsikan dirinya
ketika berinteraksi dan melakukan penyesuaian atau adaptasi dengan dunia baru
yang sebenarnya merupakan situasi dan suasana yang tidak dikehendaki
sebelumnya, karena prosesnya ia memasuki tempat rehabilitasi atau panti melalui
pemaksaan yakni karena tertangkap ketika razia. Dalam unit ini kita mendalami
dua aspek dalam diri (self). Pertama
menelaah kesadaran diri dan mengamati beberapa dalam diri (self) seorang mantan wanita tuna susila. Kedua membahas
pengungkapan diri, bentuk komunikasi dimana seseorang mengungkapkan sesuatu
tentang siapa diri. Kesadaran diri merupakan landasan bagi semua bentuk dan
fungsi komunikasi (Kleinke,1978, dalam Rahman, 2004:8). Ini dapat dijelaskan
dengan baik melalui teori jendela (Johari
Window
) yang membagi empat daerah atau kuadran pokok: daerah terbuka,
daerah buta, daerah tertutup, dan daerah gelap.


Suatu kondisi yang wajar manakala berbagai macam
kompleksitas konflik dan permasalahan yang mereka alami menjadi hal terberat
dalam melakukan komunikasi dan interaksi sosial dengan anggota masyarakat
lainnya, karena sejak lahir manusia telah memiliki dua hasrat atau keinginan
pokok, yaitu
pertama keinginan menjadi manusia yang berubah serta
menjadi lebih baik  dan
kedua keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di lingkungan sekitarnya
/masyarakat (Soekanto, 2002:124). Kesiapan untuk melakukan penyesuaian sosial pasca
rehabilitasi adalah sesuatu hal yang terberat bagi mereka ketika mereka merasa
dikucilkan oleh masyarakat, atau bahkan mereka menjadi
inferior (rendah diri) dalam melakukan interaksi sosial dengan
masyarakat tempat mereka tinggal. Dalam konteks komunikasi yang berkaitan
dengan relasi antar pribadi, konsep diri merupakan faktor yang amat menentukan,
karena setiap orang bertingkah laku/ berkomunikasi sedapat mungkin sesuai
dengan konsep dirinya (Rakhmat, 2005:104). Rakhmat menambahkan, sukses komunikasi
interpersonal ini banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang;
positif atau negatif. Oleh karena itu untuk meneliti kesiapan adaptasi sosial
seorang mantan pelacur pasca rehabilitasi harus diawali dengan memahami
bagaimana konsep diri mereka sebelum dan selama menjalani proses rehabilitasi
di dalam panti. 


 


Kirim ke Teman  Cetak             

Berita "Artikel Penelitian" Lainnya

PENCARIAN

Lemlit Loading
UHAMKA Diseminasikan Hasil Riset Dalam Konggres Internasional di Paris
2014-07-20 16:24:14 - 36 views
Psikologi UHAMKA kembali menunjuk...
Panduan Unggah Laporan Penelitian DIKTI Secara OnLine
2014-07-17 16:50:46 - 141 views
Panduan Unggah Laporan Penelitian...
Materi Pelatihan Dosen (Panduan Penelitian)
2014-06-26 01:10:13 - 155 views
  1. Panduan Penelitian Reg...
Sosialisasi Penelitian DIKTI 2014 di UHAMKA
2014-06-20 11:54:56 - 166 views
Materi Sosialisasi : 1. Panduan ...
Pemenang Penelitian Hibah DIKTI 2014
2014-06-18 10:03:28 - 291 views
Rektor UHAMKA, Prof Dr H Suyatno ...
Hasil Survei Paparan Asap Rokok Kepada Perokok Pasif
2014-05-29 00:14:39 - 261 views
Dampak asap rokok bukan hanya ter...
Muhibah Penelitian Ke Maluku Utara
2014-05-28 19:16:41 - 209 views
Lembaga Penelitian dan Pengembang...
Apresiasi Seni Mahasiswa
2014-05-28 17:47:37 - 178 views
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan ...
Cari, Dekati, Cintai Kebudayaan Indonesia
2014-05-28 17:30:11 - 188 views
Badan Eksutif Mahasiswa (BEM) Fak...
Prof Dr Suyatno, MPd Menandatangani SPK Penelitian HIBAH DIKTI
2014-05-14 10:50:01 - 223 views
Atas nama rektor Universitas Muha...

Pesan Singkat

Statistik Situs

Visitors : 720600 Org
Hits : 2042862 Hits
Month : 4211 Users
Today : 293 Users
Online : 17 Users

Top Download

LEMLITBANG DAN LPPM

Free counters!