Berita

Ai Fatimah Nur Fuad Kandidat Ph.D bidang Kajian Agama dan Masyarakat di Universitas Leeds Inggris Do

Serba-Serbi

Suka Cita Lebaran di Inggris

redaksi , UHAMKA | Thursday, 29/August/2013 07:15

Ai Fatimah Nur Fuad
Kandidat Ph.D bidang Kajian Agama dan Masyarakat di Universitas Leeds Inggris
Dosen FISIP UHAMKA Jakarta

Jutaan umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya ‘Idul fitri 1434 H. Hari yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Semua Muslim bersuka cita menyambut hari kemenangan ini tak terkecuali dengan Muslim di Inggris. Setelah berpuasa sejak tanggal 9 Juli 2013 (sebagian mulai 10 Juli 2013), Muslim di Inggris pun merasakan nikmat ber'idul fitri dengan berkumpul dan melaksanakan sholat ‘idul fitri di mesjid lokal atau Islamic centre di tiap kota. Saat ini di Inggris terdapat lebih dari 2000 mesjid dan Islamic centre yang biasa digunakan Muslim untuk melakukan aktifitas keagamaan. Bahkan di beberapa kota, ruang pertemuan atau ruang olahraga yang luas juga disewa agar bisa menampung lebih banyak Muslim yang ingin menghadiri sholat dan perayaan ‘idul fitri. Lebih dari itu, beberapa tahun belakangan ini kantor pemerintahan kota London dan beberapa organisasi Islam juga memfasilitasi perayaan ‘Idul fitri di Trafalgar Square, London.

Oleh karena itu Muslim Indonesia yang berada di Inggris untuk belajar, bekerja, ataupun yang sudah lama menetap di Inggris cukup leluasa untuk tetap menjalankan kewajiban agamanya dan merayakan ‘idul fitri walaupun berada ditengah mayoritas non-Muslim. Di Inggris, Muslim adalah komunitas umat beragama terbesar kedua setelah Kristiani. Kantor statistik nasional Inggris pernah merilis bahwa pada tahun 2011 saja terdapat tidak kurang dari 2,7 juta Muslim di Inggris. Data ini meningkat tajam dari 2,4 juta orang pada tahun 2009. Jumlah Muslim pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Muslim di Inggris tumbuh sepuluh kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan segmen umat beragama yang lain (The Times, 30 January 2009).

Mayoritas Muslim di Inggris saat ini adalah generasi Muslim yang lahir dari imigran Pakistan, Bangladesh dan India. Mereka berada di kota-kota besar di Inggris seperti London, Newham, Birmingham, Blackburn, Manchester, Bradford and Leeds. Jika kita melihat kembali kepada sejarah kemunculan Muslim di Inggris, pedagang Muslim dari Kashmir and Bengal merupakan rombongan Muslim pertama yang bekerja/dipekerjakan oleh perusahaan gabungan Inggris-India. Mereka tiba di beberapa pelabuhan di Inggris pada abad kedelapan Masehi. Setelah kedatangan mereka, pelaut dari India dan Yaman juga datang dan menetap di kota Liverpool dan Sheffield. Beberapa tahun kemudian, Muslim dari berbagai Negara seperti Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Maroko, dan Lebanon juga berdatangan dan menetap di Inggris.

Jumlah Muslim Inggris yang cukup banyak saat ini, tentu membuat kami yang sedang menjalani berbagai amanah disini tidak terlalu kesepian. Paling tidak berdasarkan pengalaman berpuasa dan berlebaran selama tiga kali disini, saya dan Muslim lain merasakan kebahagiaan yang sama dalam menjalankan kewajiban agama. Kami bersuka cita walaupun harus berpuasa dengan durasi yang lebih panjang dari Muslim di Indonesia. Ramadhan kali ini yang jatuh pada musim panas mewajibkan kita berpuasa sekitar 18-19 jam.

Terakhir, yang lebih penting dari sekedar rasa suka cita adalah renungan yang harus terus berlanjut selepas Ramadhan dan ‘Idul fitri. Apakah keduanya sudah mampu menghantarkan kita pada predikat muttaqun dan kembali kepada kesucian? Tentu kita ingat bahwa esensi dari puasa bukanlah menahan lapar dan haus, tetapi kesempatan untuk meningkatkan komitmen dan empati kita terhadap yang membutuhkan baik itu membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan dan perlindungan. Di atas segalanya puasa dan ‘Idul fitri adalah pelajaran bagaimana menjadi Muslim yang ihsan, baik ditengah mayoritas ataupun minoritas Muslim seperti di Inggris ini.

(Pernah di muat di Republika, 14/08/2013 Catatan Perjalanan)

Berita Terkait