Berita

Supandi, Sri Nevi Gantini Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Muhammadiyah

Artikel Penelitian

FORMULASI SABUN TRANSPARAN MINYAK NILAM SEBAGAI OBAT JERAWAT

lemlit , UHAMKA | Wednesday, 15/June/2011 11:54

Supandi, Sri Nevi Gantini

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

ABSTRAK

Minyak nilam mengandung senyawa patchouli alkohol sebagai kandungan utamanya dengan kadar 50-60% (Guenther, 1990; Yanyan, et al, 2004). Berdasarkan penelitian terhadap bioaktivitasnya, ternyata minyak nilam memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiradang, dan menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. Berdasarkan akitivitasnya sebagai antibakteri dan antiradang inilah, maka dijadikan dasar untuk mengembangkan minyak nilam sebagai obat jerawat .

Salah satu bentuk sediaan yang tepat dalam memformulasi minyak nilam untuk obat jerawat ini adalah berupa sabun transparan yang memiliki tampilan menarik Sebagai asam lemak dari formula sabun transparan digunakan VCO. Pemilihan VCO didasarkan karena merupakan bahan alami, memiliki banyak manfaat dan mudah didapat.

Hasil Evaluasi organoleptis sabun transparan yang meliputi bentuk, bau, warna dan transparansi menunjukkan bahwa sabun tidak mengalami perubahan selama penyimpanan. Minyak nilam dapat diformulasi menjadi sabun transparan dengan menggunakan bahan tambahan VCO.Peningkatan kadar VCO dalam formulasi sabun transparan minyak nilam dapat meningkatkan diameter daerah hambat sabun transparan minyak nilam terhadap bakteri S. epidermidis dan P. acnes.

 

Key word : Minyak Nilam, VCO, Obat jerawat

 

Pendahuluan

            Selain terkenal rempah-rempahnya, Indonesia juga terkenal dengan minyak  atsirinya (Agusta, 2000). Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri (Mittal et al, 2007). Di pasar perdagangan internasional, nilam diperdagangkan dalam bentuk minyak dan dikenal dengan nama Patchouli oil. Dari berbagai jenis minyak atsiri yang ada di Indonesia, minyak nilam menjadi primadona dan setiap tahun lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan dari minyak atsiri berasal dari minyak nilam (Muliawati, 2009). Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang tiap tahun memasok sekitar 75% kebutuhan dunia (Tasma, et al, 1989; Sumangat, et al,1998).

Aroma minyak nilam sangat khas, sehingga kerap dimanfaatkan orang sebagai pengikat (fiksatif) wangi pada parfum ataupun kosmetika (Bunrathep, et al, 2006; Donelian, et al, 2009). Minyak ini memiliki daya lekat kuat, sehingga aroma wanginya tidak mudah hilang atau menguap. Keunggulan lainnya adalah dapat larut dengan alkohol dan dicampur dengan minyak atsiri lain. Dibandingkan dengan minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman lain, minyak nilam paling diunggulkan keharumannya (Dhalimi et al, 2000; Emmyzar, et al, 2004; Yudistira, et al, 2009.) .

Berdasarkan penelitian terhadap bioaktivitasnya, ternyata minyak nilam memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiradang, dan menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri (Eni, 2005; Winitchai, et al., 2007). Minyak nilam juga memiliki kepekaan terhadap bakteri seperti Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes (Wikandi, et al, 1990; Dhalimi, et al, 2000; Winitchai, et al, 2007).

Berdasarkan akitivitasnya sebagai antibakteri dan antiradang inilah, maka dijadikan dasar untuk mengembangkan minyak nilam sebagai obat jerawat (Dhalimi, et al, 2000; Yuliani, et al, 2005).  Jerawat adalah penyakit kulit (topikal) akibat peradangan menahun dari folikel polisebasea dan ditandai dengan meningkatnya jumlah bakteri dalam folikel yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis yang berperan dalam proses inflamasi (Boyd, et al, 1985; Freeman, et al, 1985; Wasitaatmadja, 1997).

VCO merupakan minyak alamiah berkualitas tinggi yang diperoleh dari santan kelapa segar. Kandungan asam lemak terutama asam laurat dan oleat  dalam VCO, dapat berfungsi untuk melembutkan kulit, peningkat penetrasi, moisturizer dan mempercepat penyembuhan pada kulit. Disamping itu, VCO aman digunakan  pada kulit karena tidak mengiritasi (Agero, et al, 2004; Price, 2004; Lucida, et al, 2008).  Terkait dengan aktivitasnya, VCO ternyata juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri (Enig, 1999; Rindengan, 2003).

 Berdasarkan sifat minyak nilam dan VCO seperti tersebut di atas dan ditambah dengan ketersediaannya yang melimpah di Indonesia, membuatnya berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pada formulasi sabun transparan yang berbasis bahan alami. Dengan demikian, kombinasi minyak nilam sebagai zat aktif dengan VCO sebagai salah satu komponen zat tambahan, diharapkan dapat menghasilkan  sabun transparan yang memiliki efek antijerawat yang lebih baik dan aman digunakan.  

 

Metodologi

 

A.    Persiapan Bahan dan Alat

            Bahan–bahan yang digunakan antara lain: minyak nilam, VCO, asam stearat, NaOH, gliserin, etanol, gula pasir, asam sitrat, cocoamide DEA, aquadest, media nutrien agar (Merck®), larutan DMSO (Dimetil Sulfo Oksid), aquadest steril, klindamisin, bakteri Propionibacterium acnes dan  Staphylococcus epidermidis.

            Alat–alat yang digunakan adalah spektrofotometer UV-Vis Shimadzu 1601, oven, wadah, rotary evaporator, krus porselen, mikroskop dengan mikrometer, stopwatch, tabung reaksi, timbangan analitik (Denver Instrument®), beaker gelas, labu Erlenmeyer, batang pengaduk, pipet volume, corong pisah, pH meter AB 15 (Fisher scientific®), lumpang, alu, cawan Petri, jarum Ose, kertas cakram, inkubator, autoklaf, lampu spiritus dan pipet mikro.

 

B.     Pemeriksaan bahan baku

a. Pemeriksaan minyak nilam (Standar Nasional Indonesia, 2006)

Pemeriksaan mutu minyak nilam meliputi pemeriksaan organoleptis (bentuk, warna, dan bau ), bobot jenis, indeks bias dan kelarutan dalam etanol 90%.

b. Pemeriksaan bahan pembantu

Pemeriksaan bahan pembantu dilakukan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV.

 

C.    Formulasi sabun transparan minyak nilam

            Tabel 1. Formula sabun transparan minyak nilam

No.

Komposisi

Formula 1

Formula 2

Formula 3

Formula 4

Formula 5

1.

Minyak nilam

3 %

3 %

3 %

3 %

3 %

2.

VCO

10 %

12,5 %

15 %

17,5 %

20 %

3.

Asam stearat

6,5 %

6,5 %

6,5 %

6,5 %

6,5 %

4.

NaOH

25  %

25 %

25 %

25 %

25 %

5.

Gliserin

15 %

15 %

15 %

15 %

15 %

6.

Etanol 96%

16 %

16 %

16 %

16 %

16 %

7.

Gula pasir

5 %

5 %

5 %

5 %

5 %

8.

Asam sitrat

4 %

4 %

4 %

4 %

4 %

9.

Cocoamide DEA

5 %

5 %

5 %

5 %

5 %

10.

Aquadest ad

100 %

100 %

100 %

100 %

100 %

 

 

 

a.    Uji iritasi kulit (Boyd et al, 1985; Depkes RI, 1985)

     Uji iritasi kulit dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel. Sediaan ditimbang 0,1 gram dioleskan pada lengan bagian dalam dengan diameter 2 cm, kemudian ditutup dengan kain kasa dan plester. Setelah 24 jam gejala yang timbul diamati. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk masing–masing formula. Pemeriksaan dilakukan selama 3 hari berturut–turut.

b.    Uji daya pembasah (Martin, et al, 1990)

     Uji daya pembasah dilakukan dengan metode Draves. Benang kapas seberat 2 gram digulung sepanjang 9 cm dan salah satu ujungnya dikaitkaan ke beban seberat 0,5 gram. Larutan sabun 0,1% dimasukkan ke dalam beaker glass ukuran 1 liter, benang dan beban dimasukkan ke dalam larutan sampel. Pada saat beban dijatuhkan, stop watch dihidupkan dan stop watch dimatikan pada saat beban menyentuh dasar beaker glass.

c.    Uji daya busa terhadap air suling (Martin, et al, 1990)

     Uji daya busa terhadap air suling dilakukan dengan cara: larutan sabun 1 % sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur 500 ml kemudian tingginya diukur. Teteskan 200 ml larutan yang sama dengan bantuan buret dengan ketinggian 90 cm di atas permukaan sabun, setelah 5 menit tinggi busa yang terbentuk segera diukur.

Berita Terkait