Berita

  Oleh: Mayarni, S.Pd., M.Si.  Dosen FKIP Prog. Studi Biologi UHAMKA Makalah ini disampaik

Artikel Penelitian

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN METODE REINFORCEMENT

lemlit , UHAMKA | Wednesday, 15/June/2011 11:41

 

Oleh: Mayarni, S.Pd., M.Si.

 Dosen FKIP Prog. Studi Biologi UHAMKA

Makalah ini disampaikan pada seminar dalam rangka kegiatan menyambut Wisuda dan Dies Natalis UHAMKA, Hari,tanggal Jumat dan Sabtu, 10 dan 11 Desember 2010

 

I. PENDAHULUAN

 Prestasi

        Jika kita berbicara masalah prestasi, memang menyenangkan bahkan membuat kita tak pernah bosan untuk membicarakanya apalagi jika kita berbicara masalah prestasi seorang siswa, ditambah lagi jika yang dibicarakan adalah siswa kita sendiri. Atau mungkin bahkan anak kita sendiri. Seandainya kita adalah guru kelas, pasti  kita dengan bangga membicarakan tentang murid- murid yang berprestasi. Jika ada kesempatan maka kita akan membicarakan dengan teman sejawat tentang prestasi yang diperoleh oleh siswa kelas kita, bahkan biasanya kitapun termotifasi memberi perhatian yang lebih kepada anak tersebut, dan sebagai tanda perhatian tersebut kita sebagai guru sering meminta pertolongan mereka. Ini dimulai dari hal yang paling kecil seperti minta diambilkan minuman, minta dibelikan kue, minta diambilkan absen dan sebagainya, bahkan mungkin meminta anak yang berprestasi tersebut mengabsen teman- temanya. Bahkan ada seorang orang tua murid yang mengatakan “ Wah kalau anak saya setiap hari selalu diminta tolong sama guru mereka untuk mengabsen teman- temanya “ . Apa yang tersirat dalam ucapan ini adalah kalau anak mereka adalah anak yang berprestasi disekolah sehingga ibu/ bapak guru merekapun mempercayai mereka.

        Semakin sering anak dimintai pertolongan dari seorang guru mereka sebatas kemampuan yang mereka miliki maka anakpun merasa diperhatikan oleh guru mereka bahkan merekapun akan merasa lebih percaya diri. Dan rasa percaya diri ini adalah awal dari kesuksesan seorang siswa.

        Bagai mana dengan anak-anak yang tidak berprestasi dikelas kita ?., Jika kita coba berbincang bincang dengan seorang guru kelas misalkan guru kelas sekolah dasar (SD) tentang muridnya yang kurang berprestasi dalam belajar, maka sangat sering terucap dari seorang guru kata- kata yang tidak pantas untuk diucapkan seperti kata kata seperti “wah kalau anak itu mah bandelnya minta ampun , nakal bangat , tidak bisa dibilangin, bodohnya keterlaluan, bahkan seorang gurupun sering tidak memperhatikan anak- anak yang kurang berprestasi tersebut, bahkan mungkin salah sedikitpun mereka akan kena marah secara berlebihan, bahkan mungkin sebagian guru sanggup mengucapkan kata- kata kasar pada siswanya yang kurang berunung dalam berprestasi tersebut. Misalnaya kata- kata seperti kamu bodoh, tolol, goblok, makan tu goblok. Kata-kata seperti ini menurut suvei peneliti sanggup diucapkan oleh sebagian ibu guru kita yang mengajar di SD kepada siswa mereka yang kurang beruntung mendapat prestasi dalam pendidikan. Sungguh suatu ucapan yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang guru kepada muridnya, ini merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan.

        Jika begini adanya bagaimana nasib anak anak yang kurang beruntung dalam berprestasi ini? Mereka sering dikucilkan dari teman- temanya , mereka sering dimarahin ibu/bapak guru, hal ini akan membuat mereka merasa minder, merasa terbelakang dan merasa tidak percaya diri. misalnya dalam proses belajar dikelas , jika mereka yang kurang berprestasi ini dalam belajar ini mau bertanya kepada ibu/ bapak giru karena belum jelas, maka mereka merasa takut untuk bertanya, takut ditertawakan teman- temanya atau bahkan takut salah omongan, karena mereka tidak memiliki rasa percaya diri

b. Pengalaman peneliti

        Menurut pengalaman peneliti yang pernah menjadi guru honorer di suatu SMPN di Sumatra Barat, ketika itu peneliti baru tamat dari suatu SLA yaitu Sekolah Pertanian Pembangunan Negri Padang (SPP N.Padang). Karena kurangya guru ketika itu peneliti diminta mengajar biologi di SMPN tersebut. Disuatu kelas ada seorang siswa yang prestasi belajarnya, jauh tertinggal dari teman- teman sejawatnya, mereka adalah seorang putri yang berwajah cantik tetapi sering menjadi bahan olok- olokan teman- temanya, bahkan dikantorpun sering guru- guru membicarakan mereka karena prestasi mereka yang jauh dari prestasi teman- temanya. Peneliti ketika itu merasa kasihan dan merasa terpanggil untuk memberikan perhatian yang lebih pada siswa yang bermasalah dalam berprestasi tersebut. Hal tersebut ternyata  memberikan dampak yang sangat positif.

       Terlihat dari hasil ujian kenakan kelas, nilai biologi yang diperoleh siswa tersebut cukup bagus bahkan menyamai dan mungkin melebihi teman- teman sekelasnya , ketika itu mereka mendapat nilai 8 (delapan). Sehingga pada rapat kenaikan kelas, guru- guru yang lain merasa tidak percaya dengan nilai yang mereka dapat, sehingga peneliti akhirnya memperlihatkan nilai yang ada pada lembar jawaban ujian siswa agar dapat dipercaya oleh guru- guru yang lain.

        Ditempat lain tempat hal yang sama juga terjadi, ketika itu peneliti mengajar disuatu SMA swasta di kota Medan Sumatra Utara. Saat itu peneliti baru menduduki kuliah semester VII di Pendidikan Biologi sekaligus mengajar kelas II SMA swasta, satu diantara anak tersebut nilai ulanganya paling jelek dan anaknyapun paling meribut ketika belajar dikelas. Terlihat tidak ada perhatian sama sekali terhadap pelajaran. Ketika guru menjelaskan dia tidak ada perhatian sama sekali, dia bisa saja mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan pelajaran atau diam dengan pandangan mata yang kosong akan tetapi begitu guru membelakangi dan menulis dipapan tulis mereka selalu bergendang dengan memukul meja, ini dilakukan hampir tiap kali penulis masuk kelas, sampai penulis berpikir untuk keluar dari sekolah tersebut karna tidak sanggup mengajar anak-anak yang bertingkah seperti itu.

        Suatu hari penulis mencoba untuk ketemu anak tersebut dan ingin menanyakan hal apa sesungguhnya yang terjadi sehingga mereka tidak sedikitpun ada perhatian terhadap pelajaran. Ini penulis lakukan dengan cara tes kedepan kelas satu persatu didepan meja guru, tujuan dari tes tersebut hanya agar bisa bicara dengan anak yang dimaksud sehingga tidak diketahui teman-temanya. Begitu anak tersebut mendapat giliran penulis tidak sama sekali melakukan tes seperti yang dilakukan sama teman temanya, hanya menanyakan “Kamu kenapa?, ada apa dengan kamu?, punya masalah apa?, ayo bicara, kenapa tidak ada perhatian sama sekali dengan pelajaran? Bicara sama saya, jangan malu. Pada akhirnya mereka menangis dan mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dikeluarga mereka sehingga mempengaruhi semangat belajar mereka. Setelah diberi saran dengan segala macam ungkapan yang memotivasi mereka mau belajar akhirnya terlihat ada perobahan kearah yang positif.  

 

 II. KAJIAN TEORI dan HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Teori

a. Keberhasilan guru dalam mengajar

        Keberhasilan seorang guru dalam mengajar akan terlihat dari keberhasilan siswanya dalam belajar. Keberhasilan yang dimaksud adalah prestasi yang diperoleh anak didiknya dalam semua mata pelajaran yang diberikan. Makin banyak anak didiknya yang berprestasi makin, dianggap berhasil guru dalam mengajar dan juga dianggap guru tersebutpun berprestasi dalam mengajar.

        Prestasi seorang siswa dalam belajar bisa terlihat dari nilai ujian siswa yang bersangkutan. Jika siswa tersebut mendapat nilai hasil ujian diatas delapan puluh apalagi jika semua pelajaranya nilai yang diperoleh delapan puluh, maka sudah pasti siswa tersebut dianggap berprestasi dalam mata pelajaran

 

b. Prestasi siswa

        Menurut Munandar (Ali & Asrori, 2005) perwujudan nyata dari dari bakat adalah prestasi, karena bakat menentukan prestasi seseorang. Sekalipun demikian orang yang berbakat belum tentu brprestasi. Hal ini karena bakat bersifat potensial yang membutuhkan latihan dan pengembangan secara maksimal. Bakat khusus yang dikembangkan sejak dini akan dapat terealisasi dalam bentuk prestasi unggul. Berdasarkan penelitian terakhir, ditemukan bahwa sekitar 29% siswa SD dan SMP menjadi anak yang underachiever, artinya prestasi belajar yang mereka peroleh berada dibawah potensi atau bakat intelektual yang sesungguhnya mereka miliki.

c. Belajar

        Meenurut Edward Walter, belajar adalah perubahan atau tingkah laku akibat pengalaman dan latihan. Contoh, Anti kesulitan dan ketakutan belajar matematika, padahal kakaknya Anto pandai belajar matematika. Menurut Edward Walter belajar matematika memerlukan latihan latihan yang berulang kali. Latihan- latihan yang intensif bagi siswa SD akan lebih mudah mempelajari simbol simbol matematika. Unkapan guru SD harus memupuk anak agar mau melatih diri belajar matematika, bukan mengkritik anak dengan komentar negatif. Anak menjadi cemas, bahkan ketakutan belajar matematika

d. Ketrampilan memberikan penguatan (Reinforcement).

d.1. Aliran psikologi humanistik

        Menurut aliran ini hasil belajar mampu merubah prilaku anak. Jika anak SD merasa senang belajar berarti anda berhasil menciptakan suasana yang kondusif di dalam kelas. Mengkondisikan belajar dapat dilakukan apabila proses belajar anak tersebut berhasil. Anak dapat diberikan reward dalam bentuk hadiah dan pujian. Apabila anak itu tidak berhasil dapat memacu anak dengan pemberian penguatan negatif (reinforcement negatif).(Ingridwati, 2007)

d.2. Penguatan atau reinforcement

Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi ataupun unpan balik (feedback) bagi sipenerima (siswa) atas perbuatanya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengajar ataupun membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar.

        Sebagai contoh, Seorang guru mengatakan “ Coba kamu sebutkan salah satu sifat udara”. “ Ya coba kamu, Irwan!” (sambil menunjuk), siswa : :Udara mempunyai bentuk seperti wadahnya, Bu!”. Guru mengatakan : “Bagus, itu jawaban yang tepat. Ibu senang mempunyai murid yang dapat menjawab seperti kamu.”

d.2.a. Tujuan pemberian penguatan

        Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif, terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:

1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaranya

2. Merangsang dan meningkatkan motifasi belajar siswa

3. Meningkatkat kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.

d.2.b. Jenis- jenis penguatan

  1. Penguatan verbal
  2. Penguatan non verbal

d.2.c. Prinsip Penggunaan Penguatan :

Kehangatan dan keantusiasan

        Sikap dan gaya guru, termasuk suara, mimik dan gerak badan, akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Dengan demikian tidak terjadi kesan bahwa guru tidak iklas dalam memberikan penguatan karena tidak disertai kehangatan dan keantusiasan.

 Kebermaknaan

        Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan siswa sehingga, ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan. Dengan demikian penguatan itu bermakna baginya, yang jelas jangan sampai terjadi sebaliknya.

Menghindari respon yang negatif

        Walaupun teguran dan hukuman masih boleh digunakan, respon negatif yang diberikan guru berupa komentar, bercanda, menghina, ejekan yang kasar perlu dihindari karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya

d.2.d. Cara menggunakan penguatan

1. Penguatan kepada pribadi tertentu

        Penguatan harus jelas kepada siapa diberikan, sebab kalau tidak akan kurang efektif. Oleh karena itu sebelum memberikan penguatan, guru lebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya

2. Penguatan kepada kelompok dengan segera

        Penguatan seharusnya segera setelah munculnya tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberianya, cendrung kurang efektif.

3. Variasi dalam penggunaan reinforcement

        Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja karena hal ini akan menimbulkan kebosanan dan lamakelamaan menjadi kurang efektif.

Perbedaan intraindividual

        Adalah suatu perbandingan antar potensi yang ada dalam diri individu itu sendiri, perbedaan ini muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis dan sosial. Sebagai ilustrasi ada seorang siswa yang memiliki prestasi belajar sangat cemerlang tetapi dia sangat tidak disenangi oleh teman-temanya karena dia bersifat sangat tertutup dan individualis dan sulit diajak kerjasama. Dari gambaran tersebut dapat digambarkan antara kemampuan intelektual dan kemampuan sosial siswa cukup signifikan sehingga siswa tersebut memerlukan perlakuan khusus.agar potensinya dapat berkembang optimal.(Suparno,2007)

f. Penelitian Yang Relevan

        Berbagai penelitian tentang model atau metode pembelajaran, baik dinegara luar maupun dinegara kita sendiri sudah sangat banyak dilakuakn, tetapi penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Tindakan kelas yang dimaksud disini adalah tindakan seorang guru kelas secara komplek dengan tujuan untuk dapat memotivasi anak dalam belajar, sehingga diharapkan anak yang berprestasi rendah dapat meningkat prestasi anak tersebut jika diberi perhatian yang lebih. Perhatian yang dimaksud disini adalah memperhatikan anak tersebut disegala kesempatan seperti menjadikan dia sebagai seorang teman, bercanda, menanyakan tentang pelajaran, menyuruh belajar, menanya tentang kondisi keluarga,memuji , mengatakan dia pasti bias bahkan juga bias dilakukan dengan cara kita sering meminta pertolongan mereka. Yang umumnya apa saja yang membuat anak merasa nyaman dengan kita sebagai seorang guru, sehingga anak merasa timbul rasa percaya diri, berani untuk bertanya   Menurut Mayarni 2008, bahwa prestasi anak yang berprestasi rendah dapat ditingkatkan dengan memberikan perhatian yang lebih.

B. Hipotesis Tindakan

        Prestasi Belajar Siswa yang Berprestasi Rendah Dapat Ditingkatkan dengan Metode Reinforcement

 

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Seting Penelitian

a. Tempat penelitian

        Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di sebuah sekolah dasar, yaitu di SD Negri 04 Pagi Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV B, tahun pelajaran 2009/2010

b. Waktu penelitian

        Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010

c. Siklus penelitian

        Penelitian ini dilakukan melalui tiga siklus untuk melihat perubahan hasil belajar siswa yang berprestasi rendah dengan metode Reinforcement. Metode reinforcement disini lebih diarahkan kepada perhatian yang lebih. Perhatian yang lebih disini lebih diutamakan kepada anak-anak yang berprestasi rendah, dengan melakukan perhatian yang lebih terhadap anak-anak yang berprestasi rendah diharapkan prestasi anak tersebut dapat menyaingi prestasi belajar teman-temanya.

        Perhatian disini dilakukan setiap saat atau setiap kali ketemu anak-anak tersebut. Bentuk perhatian disini tidak hanya memperhatikan mereka dalam belajar akan tetapi perhatian dapat ditunjukkan dalam bentuk bercanda, memuji, menanyakan apakah mereka belajar tadi malam dan mungkin juga dengan perkataan misalnya kamu pasti bisa, kamu bisa mengalahkan temanmu, ayo belajar jangan mau kalah. Yang pasti setiap saat kita perlihatkan bahwa kita sangat memperhatikan mereka dan memperlihatkan bahwa kita menyayangi mereka.

        Perhatian dalam bentuk kasih sayang ini diharapkan dapat menimbulkan rasa percaya diri pada  anak tersebut sedangkan, rasa percaya diri adalah modal awal dari segala kesuksesan. Perhatian dalam bentuk kasih sayang dan memperlakukan mereka sebagai seorang teman, itu sangat penting untuk menanamkan rasa percaya diri bahkan dapat meningkatkan prestasi belajar anak tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Mayarni (2008) bahwa adanya respon positif dari mahasiswa yang berprestasi rendah dengan perobahan sikap dosen dalam guru mengajar, karena kepercayaan diri  merupakan modal awal dari segalanya, seperti mereka berani bertanya sebab banyak sekali anak anak yang tidak mengerti apa yang mereka pelajari terlebih lagi mereka tidak sanggup untuk bertanya pada bapak dan ibu guru mereka.

        Dengan mereka mendapat perhatian, diharap mereka akan menyayangi guru tersebut sehingga membuat mereka senang datang kesekolah dan membuat mereka belajar dengan giat, disini juga diharap mereka akan malu sama gurunya jika mereka tidak pintar karena guru mereka selalu memperhatikan mereka.

B.Subjek Penelitian

        Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD terdiri dari 40 orang siswa dengan komposisi 19 orang laki-laki 21 orang. Siswa yang diberi perhatian lebih disini adalah siswa yang prestasinya jauh dibawah prestasi teman- temanya.

C. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas.

D. Prosedur Penelitian

Jumlah siklus penelitian

        Jumlah siklus penelitian ini berjumlah tiga siklus, pada siklus pertama dilakukan penentuan kelas dan pemilihan anak yang akan diberi perlakuan, beri perlakuan, selanjutnya pengambilan nilai awal dari anak anak tersebut. Selanjutnya anak anak tersebut diberi perlakuan dengan perhatian yang lebih. Metode Reinforsment disini adalah perhatian yang lebih seperti apakah dia tadi malam belajar, meminta dia untuk belajar, bercanda, mengatakan dia anak pintar, mengatakan kamu pasti bisa, jika seorang guru perlu bantuan yang dimintai bantuan adalah anak-anak tersebut seperti meminta tolong membelikan makanan bahkan hanya meminta anak tersebut menghapus papan tulis didepan kelas dan yang lebih terpenting adalah memperlakukan mereka sebagai teman. Selanjutnya mengambil nilai hasil ujian anak tersebut selanjutnya nilai diolah dengan cara membandingkan nilai tersebut dengan nilai teman temanya.

        Pada siklus kedua perhatian lebih ditingkatkan lagi karena terlihat hasil dari siklus pertama belum terlalu kelihatan perobahanya, dan pada akhirnya dilakukan pengambilan nilai secara bersama sama

        Perlakuan diteruskan dengan siklus ketiga disini sudah mulai ada perobahan pada diri anak tersebut. Keceriaan didalam kelas terlihat disini dan biasanya anak yang diberi perlakuan ini sering datang terlambat saat ini sudah sangat jarang mereka datang terlambat.Dalam prosedur penelian tindakan kelas ini keberhasilan dapat peneliti lihat dari sisi kerajinan dan keceriaan serta peningkatan prestasi belajar mereka peroleh

E. Alat Pengumpul Data

b.1.Alat pengumpil data adalah mengunakan tes untuk mengukur kemampuan subyek penelitian, yang selanjutnya hasil tes tesebut dibandingkan dengan hasil tes teman-temanya

b.2. Obsevasi dan wawancara, Observasi dan wawacara disini digunakan sebagai data penunjang dalam memberi perlakuan dan dalam mengambil keputusan.

F. Analisis Data

        Data hasil tes yang diambil dianalisis dengan teknik persentasi dan yaitu dengan membandingkan dengan data nilai dari teman-teman seangkatanya dalam satu kelas.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasi dan Pembahasan

a. Hasil ulangan I

Tabel I

Daftar Nilai Ulangan Tengah Semester yang Diambil Diawal Penelitian Tahun Pelajaran 2009/2010

           
             

No

Nama siswa

Mata Pelajaran

Jumlah

Rata-rata

Bhs Indon

MTK

IPA

1

 Nada Fitriani Azzahra

7.50

6.50

8.90

22.90

7.63

2

 Esterlita Sihombing

8.50

8.00

8.70

25.20

8.40

3

 Hanifah Nurul Islami

6.50

6.00

8.30

20.80

6.93

4

 Ezra Luga

8.50

6.00

Berita Terkait

Pengumuman

Batas Pemasukan Proposal Penelitian Reguler

14 Apr 2011

Sesuai dengan kesepakatan yang telah diambil dalam acara WorkShop bahwa batas pemasukan proposal pen


Agenda Penelitian

Strategi Pengembangan LPPM & LEMLITBANG UHAMKA

14 Apr 2011

LEMLITBANG & LPPM UHAMKA adalah sebuah lembaga pengelola teknis Universitas Muhammadiyah Prof Dr


Artikel Penelitian

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KONSEP PEMBAGIAN DAN PERKALIAN

15 Jun 2011

  Drs. H. Nawawi, M. Si   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan ha