Berita

Abstract The unannounced examination (or in government term means “social reach”) that h

Artikel Penelitian

Konsep Diri Eks Wanita Tuna Susila di Panti Sosial

lemlit , UHAMKA | Friday, 27/May/2011 19:03

Abstract

The unannounced examination (or in government term means “social reach”) that has been done by the government when the prostitute was done their activities as a prostitute, has made a big psychology changes, especially when they have some guidance from the rehabilitation staff. They become someone different than before and it is also have a new self concept. The arrest tragedy that took them to the rehabilitation has made social changes and different new awareness, before they took to the rehabilitation.

In general this research, to see how the rehabilitation program is, how’s the interaction, social adaptation, and also the self concept of ex prostitute before and after joins the rehabilitation.

This research will be very interesting to be done, because when researcher revealed the subjective reality from one prostitute that enter and join the rehabilitation process, the adaptation readiness also will be revealed. This research was done in Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Rehabilitation Kedoya Jakarta, which is feel very unique and as a justification to be done more over, because by using the fenomenology approach and existensialism will be revealed the awareness of ex prostitute in interaction in the rehabilitation. This research that was going on emic was done by deeper interview method, observation, and documentation study as a technic in getting the data.

This research shows that the self concept of ex prostitute is negative before enter the rehabilitation (when become a prostitute) based on the subject motivation to be a prostitute, and also as a self image of physic perception, mental, and social during as a prostitute. Beside that it is also found self concept polarization become a positive and negative self concept after join the rehabilitation based on the the perception of physic, social, and mental. From the self concept polarization, it is formed to be three typology of ex prostitute; they are optimistic ex prostitute, dilemmatic ex prostitute, and pessimistic ex prostitute. In social adaptation readiness concept context, it is also found three classification of social adaptation readiness of ex prostitute in Bina Karya Wanita “Harapan Mulya” Rehabilitation Kedoya Jakarta to be: ex prostitute ready to adaptation, ex prostitute unready and pragmatic or conditional ex prostitute. In the communication, ex prostitute with the rehabilitation staff is happen in circular way and instructional and normative context, whereas the communication with the other prostitute is happen with dialogist and circuler.

Keyword: Ex Prostitute, Self Concept, Fenomenology, Communication, Rehabilitation

 

I. Pendahuluan

1.1 Konteks Penelitian

            Di antara sekian masalah yang cukup serius yang dialami bangsa kita sebagai pengaruh dari globalisasi ini ialah merajalelanya wanita tuna susila (WTS) dan atau sering disebut pekerja seks komersial (PSK). Data ini tercatat bahwa fakta angka tahun 2006 jumlah Pekerja Seks Komersial (perempuan) mencapai 240 ribu dan 30 persen PSK Indonesia adalah anak-anak dibawah usia 18 tahun. (Dinas Sosial Prop.DKI Jakarta, 2006)

            Maraknya pekerja seks komersial atau pelacur ini di Jakarta mengharuskan Pemda Propinsi DKI Jakarta menyusun kebijakan dan menerapkan langkah-langkah penganggulangan yang terpadu dan menyeluruh dalam suatu sistem yang efektif dan komprehensif, baik penegakan hukum untuk mengurai suplai (supply reduction) maupun pendekatan kesejahteraan untuk menekan dan mengatasi laju jumlah WTS di Jakarta. Pada kenyataannya usaha-usaha untuk menanggulangi permasalahan ini tetap sulit untuk mencapai hasil yang optimal. Permasalahannya selain terletak pada terbatasnya jangkauan dan kemampuan pemerintah, juga karena kompleksitas rumitnya seputar masalah pelacuran ini. Berkembangnya kasus-kasus dan semakin pesatnya jumlah WTS ini berkaitan langsung dengan kesehatan mental masyarakat serta sebagai akumulasi dari berbagai masalah sosial dan kepribadian. Berangkat dari hal ini pula penanganan yang bersifat kemasyarakatan dengan berbasis masyarakat mempunyai arti yang sangat penting.

            Sesuatu hal yang wajar manakala dalam diri setiap manusia memiliki hasrat seksualitas sebagai anugerah dari Sang Pencipta. Secara kodrati seksualitas merupakan kebutuhan biologis setiap individu. Namun anugerah tersebut nampaknya terkadang dijadikan suatu penyimpangan seksualitas dan komersialisasi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Apapun alasannnya dan bagaimanapun bentuknya pekerja seks komersial, wanita tuna susila, pelacuran, dan perzinaan dilarang keras baik oleh agama maupun masyarakat. Semua agama di muka bumi ini melarang terhadap kegiatan prostitusi, terlebih ajaran agama Islam telah memberikan pelarangan yang keras karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang keji dan tercela sesuai dengan firman Allah surat Al-Isra ayat 32 yaitu:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا ( أ لإسراء: 32)

             Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, tidak sopan dan suatu jalan yang buruk” (Q.S. Al-Isra: 32)

 

            Pelacur, ayam, lonte, WTS, dan PSK adalah sedikit dari sekian banyak antrian panjang istilah yang kerap terdengar ketika seseorang menunjuk pada sesosok perempuan penjaja “daging mentah” pemuas nafsu birahi kaum lelaki hidung belang ini. Persoalan di sekitar semua istilah transaksi “bisnis lendir” itulah masyarakat memberikan julukan atau labeling yang sedikit banyak memberikan kontribusi terhadap konsep dirinya. Ini kemudian dikonstruksi untuk mengontrol aktivitas seks yang tidak sesuai dengan norma masyarakat (Koentjoro, 2004). Akan tetapi julukan yang dianggap suatu kewajaran tersebut jangan dijadikan suatu alasan untuk tidak menerima mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat.

Penangkapan atau razia yang dilakukan pemerintah saat mereka beraktivitas sebagai pelacur, membuat terjadinya perubahan psikologis terutama sekali ketika menjalani pembinaan di panti rehabilitasi selama 3-6 bulan bulan pasca penangkapan/razia. Mereka menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya dan mungkin mempunyai konsep diri yang baru. Tragedi penangkapan yang membawanya ke tempat rehabilitasi membawa seorang pelacur/WTS mengalami perubahan dunia sosial dan kesadaran yang baru yang berbeda ketika sebelum berada dalam panti rehabilitasi. Perubahan tersebut membuat mereka melakukan introspeksi dan redefinisi terhadap dirinya, sehingga akhirnya ia mempunyai konsep diri yang baru, karena konsep diri bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir melainkan terbentuk dari pengalamannya. Mead (dalam Sobur, 2003:512) memberikan definisi diri sebagai produk sosial yang dibentuk melalui proses interaksi dan organisasi pengalaman-penglaman psikologis.

Dari semua tindak komunikasi yang paling penting adalah diri (self), siapa anda dan bagaimana anda mempersepsikan diri sendiri dan orang lain akan memengaruhi komunikasi anda dan tanggapan anda terhadap komunikasi orang lain (Rahman, 2004:96). Ini menjadi implikatif dan kompleks ketika para mantan WTS mempersepsikan dirinya ketika berinteraksi dan melakukan penyesuaian atau adaptasi dengan dunia baru yang sebenarnya merupakan situasi dan suasana yang tidak dikehendaki sebelumnya, karena prosesnya ia memasuki tempat rehabilitasi atau panti melalui pemaksaan yakni karena tertangkap ketika razia. Dalam unit ini kita mendalami dua aspek dalam diri (self). Pertama menelaah kesadaran diri dan mengamati beberapa dalam diri (self) seorang mantan wanita tuna susila. Kedua membahas pengungkapan diri, bentuk komunikasi dimana seseorang mengungkapkan sesuatu tentang siapa diri. Kesadaran diri merupakan landasan bagi semua bentuk dan fungsi komunikasi (Kleinke,1978, dalam Rahman, 2004:8). Ini dapat dijelaskan dengan baik melalui teori jendela (Johari Window) yang membagi empat daerah atau kuadran pokok: daerah terbuka, daerah buta, daerah tertutup, dan daerah gelap.

Suatu kondisi yang wajar manakala berbagai macam kompleksitas konflik dan permasalahan yang mereka alami menjadi hal terberat dalam melakukan komunikasi dan interaksi sosial dengan anggota masyarakat lainnya, karena sejak lahir manusia telah memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu pertama keinginan menjadi manusia yang berubah serta menjadi lebih baik  dan kedua keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di lingkungan sekitarnya /masyarakat (Soekanto, 2002:124). Kesiapan untuk melakukan penyesuaian sosial pasca rehabilitasi adalah sesuatu hal yang terberat bagi mereka ketika mereka merasa dikucilkan oleh masyarakat, atau bahkan mereka menjadi inferior (rendah diri) dalam melakukan interaksi sosial dengan masyarakat tempat mereka tinggal. Dalam konteks komunikasi yang berkaitan dengan relasi antar pribadi, konsep diri merupakan faktor yang amat menentukan, karena setiap orang bertingkah laku/ berkomunikasi sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat, 2005:104). Rakhmat menambahkan, sukses komunikasi interpersonal ini banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang; positif atau negatif. Oleh karena itu untuk meneliti kesiapan adaptasi sosial seorang mantan pelacur pasca rehabilitasi harus diawali dengan memahami bagaimana konsep diri mereka sebelum dan selama menjalani proses rehabilitasi di dalam panti. 

 

Berita Terkait

Pengumuman

Penandatanganan Kontrak Penelitian Reguler Periode April

05 May 2011

PENGUMUMAN RESMI Kepada Bpk/Ibu dosen Yang telah memsukkan proposal penelitian reguler periode


Artikel Penelitian

Menangkap Serangga dg Sumber Cahaya

05 May 2011

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji pengaruh intensitas cahaya terhadap perilaku serangga (hama), sehin


Pengumuman

Laporan Akhir Penelitian Kolaboratif

04 Jun 2011

Bersama ini dilaporkan bahwa batas akhir pelaporan penelitian kolaboratif 2011 adalah pada tanggal 3