Berita

Ai Fatimah Nur Fuad ; Dosen Fisip UHAMKA Jakarta,Kandidat Ph D Universitas Leeds-Inggris Secara pri

Artikel Penelitian

Intelektual dan Teologi Sosial

lemlit , UHAMKA | Thursday, 06/June/2013 06:43

Ai Fatimah Nur Fuad ; Dosen Fisip UHAMKA Jakarta,
Kandidat Ph D Universitas Leeds-Inggris

Secara pribadi, saya selalu mengingat pesan Buya Syafii bahwa seorang pencari ilmu, Islamic thinker, intelektual, atau apa pun namanya, selain harus tekun dalam meningkatkan kapasitas intelektualnya, juga harus terus berpikir dan bekerja nyata untuk membangun peradaban dan kemanusiaan yang lebih baik. Dengan spirit dan motivasi yang seperti itu, saya bersyukur memiliki semacam alert system.

Peran intelektual yang memi liki komitmen agama dan komitmen keilmuan untuk melakukan perubahan sosial, seperti yang dicita-citakan Maarif Institute sangatlah dibutuhkan bangsa ini. Namun, tentu dibutuhkan proses untuk menguasai keilmuan dan keterampilan tentang dari mana dan bagaimana cara melakukan perubahan sosial tersebut. Dalam ajaran Islam, sudah termaktub bahwa agama melarang tindakan-tindakan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, hegemoni, dan kemungkaran-kemungkaran sosial lainnya (QS 16: 90, 57: 25, 4: 135, dll).

Namun, persoalan how to masih harus terus ditemukan formulanya. Dalam hal ini, perhatian Maarif Institute terhadap pentingnya menguasai ilmu-ilmu sosial, dan selanjutnya mempelajari gerakan-gerakan sosial sangat diperlukan. Best practices atau best experience dari ilmu dan gerakan sosial di berbagai belahan dunia perlu dilihat sebagai bahan kajian.

Tawaran Maarif Institute sangat penting mengingat ilmu-ilmu sosial masih kurang mendapat perhatian di kalangan intelektual Islam di Indonesia. Padahal, ilmu sosial diperlukan sebagai "ilmu alat" untuk membedah persoalan kemanusiaan yang semakin berat dan beragam. Pendalaman terhadap ilmu sosial diperlukan di samping tentu saja memiliki otoritas kuat dalam ilmu agama.

Menjadi otoritatif dalam ilmu agama sangat penting untuk bisa menjadi rujukan bagi masyarakat luas, apalagi di tengah fragmentasi otoritas intelektual keagamaan yang terus berlangsung. Namun, menjamurnya berbagai tindakan kemungkaran sosial membutuhkan intelektual atau ulama yang tidak hanya otoritatif, tetapi juga sensitif terhadap persoalan yang dialami sesama.

Kepekaan sosial seorang intelektual sejatinya dibarengi dengan pemahaman akan tiga proses mekanisme perubahan; to learn, to act, and to organize. Setiap tahapan ini harus dipenuhi oleh seorang agent of change. Seperti pernah disampaikan Kang Moeslim, memang tidak semuanya harus bepikir menjadi Islamic thinker, actor, sekaligus organisator, namun sebagai sebuah gerakan intelektual tentu tetap memerlukan sisi aktivisme atau paling tidak kemampuan merang kul aktivis yang memiliki komitmen melakukan pembelaan di akar rumput.

Suatu perubahan yang signifikan tidaklah bisa diharapkan jika dilakukan oleh hanya seorang individu. Oleh karena itu, upaya untuk membangun dan menumbuhkan kesadaran kolektif mutlak diperlukan melalui sebuah organisasi.
Bangsa kita sudah memiliki banyak organisasi sosial-keagamaan, lembaga pendidikan, begitu juga dengan institusi pemerintahan atau swasta. Yang mendesak untuk dimiliki adalah tenaga pendidik, intelektual, pelaksana di lapangan dan organisator yang mumpuni untuk mengisi lembaga-lembaga tersebut. Sinergi antarkomponen anak bangsa yang mumpuni ini kelak akan melahirkan peradaban yang lebih baik.

Dengan berbekal renungan dari Maarif Institute yang seperti inilah, saya, bismillah hijrah dari Ciamis ke Inggris. Terakhir, selamat ulang tahun kepada Maarif Institute dan Buya Syafii, semoga selalu menjadi teladan dan pencerah kebinekaan bangsa

Republika, 31 Mei 2013

Berita Terkait

Agenda Kegiatan

Program Kreativitas Mahasiswa 2011

29 Aug 2011

DITLITABMAS DIKTI KEMDIKNAS telah membuka pengajuan Proposal PKM 2011 mulai bulan Agustus sampai Okt


Pengumuman

Hibah Penelitian Kompetitif

26 Jul 2011

Sebagaimana hasil rapat koordinasi dan lokakarya program Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya,


Warta Islam dan Kemuhammadiyahan

Prof A. Malik Fadjar : Muhammadiyah Harus Terus Kembangkan IPTEK

30 Jul 2011

Prof A Malik Fadjar membuka acara Forum Group Diskusi Teknologi (FGDT) yang dihadiri oleh Perguruan