Berita

  PERBANDINGAN MUTU HIDUP ODHA BERDASARKAN WILAYAH DENGAN SISTEM DUKUNGAN SEBAYA DI INDONESIA &

Artikel Penelitian

MUTU HIDUP ODHA DENGAN SISTEM DUKUNGAN SEBAYA

lemlit , UHAMKA | Tuesday, 20/December/2011 07:46

 

PERBANDINGAN MUTU HIDUP ODHA BERDASARKAN WILAYAH DENGAN SISTEM DUKUNGAN SEBAYA DI INDONESIA

 Retno Mardhiati, M.Kes

 Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat

 Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka

Email : retno_m74@yahoo.co.id

 

Tahun 2009 diperkirakan terdapat 186.257 orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia berumur 15--49 tahun (ODHA) dan tersebar di seluruh 33 propinsi. Data ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014 diperkirakan Indonesia akan memiliki hampir tiga kali jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS yaitu sebanyak 541.700 orang. Menurut dokumentasi Yayasan Spiritia, pada tahun 2001, sebagian besar ODHA mendapatkan stigma dan diskriminasi, merasa putus harapan, hidup dengan percaya diri rendah, tidak diberikan penjelasan mengenai HIV, mengalami pelanggaran hak asasi dalam sektor layanan kesehatan yang membuat ODHA tidak mengakses layanan kesehatan, tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial, dan lain-lain. Hasil dokumentasi yang kedua pada tahun 2002 juga masih menunjukkan hasil serupa.

Berawal dari kelompok dukungan sebaya yang pertama kali terbentuk di Indonesia pada tahun 1995, pola-pola dukungan KDS dimulai dengan pertemuan-pertemuan tertutup bagi ODHA untuk saling berbagi pengalaman, kekuatan dan harapan. Pola pun berkembang dengan kegiatan-kegiatan belajar bersama hingga keterlibatan ODHA lebih luas dalam penyebaran informasi dan advokasi terkait HIV. Yayasan Spiritia menyadari bahwa kelompok dukungan sebaya (KDS) berperan penting dalam mendukung sesama dan memberikan dampak positif dalam peningkatan mutu hidup ODHA dan keluarganya.

Peningkatan mutu hidup ODHA merupakan salah satu tujuan dari Strategi Rencana Aksi Nasional (SRAN) 2010-2014. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut, Yayasan Spiritia mengembangkan jejaring dukungan dengan memfasilitasi pembentukan, pengembangan, dan penguatan Kelompok Penggagas di tingkat propinsi. Hingga kini, sebanyak 18 KP propinsi telah berperan aktif mengembangkan KDS untuk lebih banyak mendukung ODHA dan keluarganya di tingkat kabupaten atau kota di propinsinya masing-masing. Sampai dengan Desember 2010, 246 KDS telah terbentuk di 118 kabupaten atau kota di 22 propinsi. Upaya bersama antara Spiritia, KP, dan KDS ini telah mampu mendukung lebih dari 17.000 ODHA hingga September 2010.

Spiritia, KP, dan KDS secara bersama-sama telah menetapkan lima pilar yang menjadi tolak ukur minimal yang harus dicapai dalam peningkatan mutu hidup ODHA pada Pertemuan Nasional Kelompok Penggagas di Surabaya tahun 2009. Peningkatan mutu hidup ODHA memperhatikan paradigma sehat dan produktif dengan mengedepankan HAM dan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender. Kelima pilar ini seiring dengan konsep pemberdayaan berdasarkan perspektif ODHA yang diusung oleh Jaringan ODHA Internasional (GNP+) yaitu positive health, dignity, and prevention.

Adapun kelima pilar tersebut adalah memiliki kepercayaan diri, memiliki pengetahuan tentang HIV, punya akses dan menggunakan layanan dukungan, pengobatan dan perawatan, tidak menularkan virus kepada orang lain, melakukan kegiatan-kegiatan positif. Meskipun kelima pilar tersebut telah ditetapkan, namun hingga saat ini belum dilakukan penelitian untuk mengukur peran KP dan KDS dalam mengubah mutu hidup ODHA.

Melihat Makalah selengkapnya KLIK di sini

Berita Terkait

Agenda Kegiatan

Diseminasi Hasil Penelitian “Pengaruh Dukungan Sebaya terhadap kualitas hidup ODHA”

19 Jul 2011

Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Lemlitbang) UHAMKA bekerja sama dengan Yayasan Spiritia te


Artikel Penelitian

PERAN DUKUNGAN SEBAYA

06 Jan 2012

PERAN DUKUNGAN SEBAYA TERHADAP MUTU HIDUP ODHA DI INDONESIA TAHUN 2011 (Studi Kualitatif di 10 Prop